Review Novel Nyala Semesta, Kisah Penggerak Hati dari Sudut Gaza

Post ini berisi review sekaligus resensi dari Nyala Semesta, novel action-thriller karya Farah Qoonita. Warning: ada spoilernya.



Kalau diminta memberikan satu kata untuk menggambarkan novel ini, aku akan menjawab satu hal: Menggetarkan hati. Eh, itu dua kata ya. Haha.

Membaca novel ini membuatku entah berapa kali takjub, tertegun, takut, menahan nafas, hingga terisak. Seolah membaca sebuah film yang dihamparkan dalam lembaran kata.

Novel yang seperti film ini juga mempunyai satu keistimewaan, kita jadi tahu istilah-istilah aneh dan asing tentang senjata penghancur dan peralatan yang digunakan Israel. Dan semua itu tentunya disertai riset yang panjang dari penulis.

Dan yang paling istimewa adalah, kau akan disuguhi kisah indah. Kisah-kisah berharga tentang kedermawanan, kebaikan hati, dan ketegaran hidup akan kau temui dalam novel ini. Kita akan dibawa melintasi perbatasan Rafah hingga masuk dalam labirin terowongan Gaza, mengintip sekeping mukjizat yang hidup di sana.
 

Kisah ini bermula dari sebuah rumah sederhana di pojok kota Gaza. Rumah keluarga Khalid, seorang petinggi Hamas, organisasi pejuang Palestina yang ditakuti Israel. Menjadi pemimpin Hamas membuatnya memiliki hidup yang tak orang lain miliki, merasakan getirnya perjuangan yang dibayar dengan darah dan air mata. Namun, sepahit apapun perjuangan itu, ia selalu bisa merasakan kebahagiaan di tengah cobaan yang mendera.

Khalid memiliki seorang istri yang tangguh bernama Hanah, dan empat buah hati yang kesemuanya ia didik menjadi pejuang; Mushab, Yusuf, Hasan, dan Maryam.

Mushab, si anak tertua, bercita-cita ingin menjadi politikus hebat yang akan membebaskan Palestina dari penjajahan. Untuk itulah, ia mengambil langkah dengan mendaftar kuliah di jurusan Political Science di universitas ternama di Turki. Alangkah berat ayah dan ibunya melepas Mushab menuntut ilmu ke luar negeri, namun demi perjuangan, diambilnya beasiswa itu dengan sukacita.

Dan dari sanalah semua ini bermula. Saat Khalid mengantar Mushab di terowongan Gaza dengan penyamaran ketat. Saat itulah ia si Green Prince, menjadi incaran paling utama Mossad, agen inteligen Israel.

Dan kisah inipun dimulai..

Alangkah kebas hatiku membaca perjalanan Mushab di tanah rantaunya. Ia menjadi aktivis Palestina yang lantang bersuara. Namun sayangnya, suatu hari ia mendapat ujian mengerikan dari seorang agen Mossad yang menipu, Loai. Mushab tertipu dan jatuh pada perangkap yang menjeratnya hingga tak bisa kabur. Ia yang dulunya amat anti-Israel, kini harus menjadi agen ganda yang bekerja untuk Mossad.

Hati manusia memang mudah berubah. Di mana ia tinggal, disitu pula ia akan menetapkan perangai. Lingkungan sekeliling kita amat mencerminkan diri kita, dan akan ikut mewarnai kita. Tidak hati-hati, maka tanpa sadar kita akan turut terbawa. Begitupun dengan Mushab.

Menjadi agen ganda yang sering bergaul dengan aktivis pro-Israel membuat pemikirannya tumpul. Ia yang semula amat radikal menentang penjajahan Israel, kini ikut melihat dunia dengan sudut pandang orang-orang itu. Karena seorang gadis yang rupanya mata-mata, Mushab jatuh hati dan akhirnya menetapkan pilihan.

Di tempat lain, Yusuf dan Hasan masih berjuang mengasah diri di Kota Gaza. Mereka menjadi pejuang yang tangguh dengan tempaan kuat. Khalid mendidik putra-putrinya dengan pembelajaran dan semangat membara untuk membebaskan Palestina. Mereka mempunyai seorang guru bernama Syekh Musa.

Kata-kata yang membuatku menangis terharu adalah perkataan beliau, yang mengatakan;

"Ada dua gaya yang bekerja dalam ketapel: gaya sentripetal dan gaya sentrifugal.

Gaya sentripetal itu ibarat nafsu manusia. Ia selalu bergerak mendekati pusat ketapel. Kecenderungannya selalu pada dunia, tak mau kemana-mana.

Sedangkan gaya sentrifugal itu ruhnya. Ia yang membuat tubuh kita bergerak menjauhi kehidupan dunia. Selalu ingin melesat, ingin berdampak, ingin menghantam, ingin mengalahkan keburukan.

Apa jadinya bila kita tak bergerak?

Saat ruhiyah kita mampu menggerakkan, kita akan menjauh dari dunia. Semakin panjang tali ketapel, semakin besar kontribusimu, potensi daya lesatnya akan semakin tinggi.

Batu untuk ketapel ibarat ilmu, daya pikir, kemampuan yang kita miliki. Semakin berat massanya, semakin kuat ia mampu menjatuhkan lawan. Aku yakin kalau kalian bukan batu biasa. Coba bayangkan kalau batu ini kita ganti dengan emas? Atau berlian? Tentu daya hantamnya akan semakin kuat.

Saat sudah waktunya kalian dilesatkan, aku harap kalian punya daya luncur yang sangat cepat, dan mampu mengalahkan lawan. 

Panjangkanlah tali kalian dengan kesungguhan, perberatlah batu kalian dengan ilmu, kencangkan daya lesatnya dengan ruhiyah.

Berusahalah untuk bisa menyamai Rasulullah. Meski terdengar tidak masuk akal, tapi berusahalah untuk mendekati kualitas Rasulullah.." --itulah yang membuatnya melakukan hal-hal gila sepanjang hidupnya.

"Terakhir, jangan pernah mengejar mimpi seorang diri. Jangan pernah melesatkan batu-batu itu sendirian. Selalu sertakan Allah.."

Dan air mataku berlinangan sudah. Alangkah keras kalimat itu menyentil hatiku. Di balik kalimat Syekh Musa di halaman 68-70, tersimpan magis yang membuat hati bergetar membaca buku ini. Tak salah kalau kukatakan, membaca novel ini juga bisa membangkitkan ruhiyahmu, membakar jiwamu dengan semangat iman.

Cerita berlanjut dengan perjuangan keluarga Khalid menghadapi serangan rudal yang membuat mereka harus keluar dari rumah. Perjuangan tak selesai sampai disitu, Khalid masih terus berjuang dengan Hamas, Hanah dengan mendidik putra-putrinya, Yusuf dan Hasan dengan kegiatan relawan mereka yang berulang kali membuat membacanya ikut menetes air mata.

Lalu tibalah saatnya Mushab pulang. Keluarga itu belum menyadari ada perubahan, hingga akhirnya tingkah Mushab mulai berbeda dan ia bahkan terlambat shalat subuh. Keluarga Khalid mulai merasakan ada yang aneh dari Mushab yang kini hatinya telah berpaling.

Demi meningkatkan kembali reputasinya, Mossad mengatur rencana pembunuhan pura-pura untuk Mushab. Ia dengan disengaja berhasil lolos dari kematian. Setelah berita heroik itu, namanya melambung bak pahlawan. Seorang anak petinggi Hamas lolos dari maut, itu berita yang menakjubkan sekali.

Sayangnya, agen ganda Mushab harus mengorbankan keluarganya. Ayahnya, Khalid, harus pergi menjalankan misi bersama Izzudin Al-Qosam, tentara pelindung Hamas yang paling pemberani. Namun di tengah misi, ia ditangkap oleh tentara Israel karena kebocoran informasi yang dilakukan oleh Mushab. Jadilah, petinggi Hamas itu, yang selama ini menjadi buronan nomor satu, dijebloskan ke dalam penjara.

Di sinilah cerita pilu tentang penyiksaan dimulai. Betapa lengkap dan nyatanya novel ini menyajikan detail kekejian yang terjadi dalam penjara paling mengerikan, Penjara Maksobiyeh. Mulai dari disiksa dengan stress position, duduk telentang di kursi dengan tangan dan kaki diikat disatukan di bawahnya, ditendang, dipukul, disiksa, disetrum, dicambuk, hingga yang paling membuat hatiku kelu: dikuliti.

Bayangkan! Semua penyiksaan itu ada, dan nyata. Hatiku kebas membayangkannya. Tidak hanya orang dewasa yang disiksa, bahkan lansia. Itu membuatku makin hancur saat membaca gambaran demi gambaran yang diceritakan dalam novel ini. Kekejian ini tak mengenal ampun, tak mengenal rasa kasihan. Apalagi bagi wanita yang dipenjara, disiksa dan diperkosa. Pedih sekali.

Namun di balik siksaan, ada kekuatan yang terus menggerakkan Khalid. Juga terus menggerakkan Hanah, Yusuf dan Hassan untuk tetap berjuang. Mereka bahkan mencari celah untuk melakukan program bayi tabung dengan menyelundupkan sperma dari penjara ayahnya, demi memperbanyak keturunan pejuang dari rahim ibunya. MasyaAllah.. betapa perempuan Palestina tak mengenal gentar, hanya satu tujuannya: yaitu untuk melahirkan dan mendidik generasi pejuang-pejuang Palestina.

Perjuangan masih berlanjut. Sementara di belakang sana, intel Israel juga tidak berhenti mencari celah untuk terus merangsek merebut Gaza. Ein Shemer Air Force, organisasi militer Israel membuat proyek Stingray, alat mutakhir yang dapat menyadap seluruh Gaza bila berhasil ditanamkan. Nantinya data ini akan dikirim kepada IDF (Israel Defense Force) untuk menjadi alat penyerangan. Mereka pun berupaya mengirimkan agen mata-mata terbaik mereka, tim Sayarat Matkal.

Tim Sayarat Matkal ini menyamar menjadi penduduk asli, dengan kedok menjadi relawan kemanusiaan. Melalui Mushab, mereka masuk dengan mudah untuk menyadap informasi. Sayangnya, saat itu juga Yusuf dan sahabatnya yang jenius, Amjad, telah berhasil menemukan alat penyadap yang telah ditanamkan dalam terowongan di titik kota. Hal itu membuat penyelundupan mereka terbongkar.

Akhirnya, terjadilah pengejaran antara barisan pejuang Izzudin Al-Qosam termasuk Yusuf dan Hasan, dengan para penyusup. Saat itulah pembaca juga akan dibawa melintasi debu-debu dan kepulan asap mobil, baku tembak dengan para penyusup, juga ikut merasakan ketegangan yang mereka rasakan. Antara hidup dan mati, antara kehidupan dengan surga terasa hanya setipis benang. 

Saat itulah kau akan sadar manisnya berjuang, saat rasa sakit tak lagi terasa menggigit. Hanya Allah yang menjadi penguatmu.

Kita akan dibawa melihat Yusuf yang tegar meski akibat pengejaran itu, ia kehilangan sebelah kakinya yang hancur. Juga para syuhada yang tenang menjemput maut terbaik, seolah impian mereka telah tergenggam di tangan.

Dan di akhir kisah novel ini, harapan baru pun dimulai..

Aku tak akan menceritakannya, biar kalian baca sendiri.

Hingga di akhir halaman, aku tak percaya ceritanya sudah usai. Butuh waktu bagiku menyelesaikan novel ini dengan besar hati, karena jujur aku paling tidak tahan dengan cerita tentang pengkhianatan. Sakit sekali rasanya, bukan? Tapi akhirnya aku selesai juga, dengan berlinangan air mata.

Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada penulis yang sudah membawakan sepotong cerita ini pada pembaca. Mau peluk banyak-banyak. Biar Allah yang membalas ya, Teh♡

Aku yakin tidak mudah, untuk menamatkan cerita ini. Risetnya luar biasa, hingga menghasilkan cerita yang nyata. Dan disclaimer: semua alat dan teknologi yang ada dalam novel ini ada dalam kehidupan nyata! Alias, ini adalah gambaran realita perjuangan saudara kita di Palestina. Betapa detail dan tepat novel ini menjelaskan istilah-istilah militer yang sebelumnya tidak kita mengerti. Kita akan lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Lalu, rasanya gak adil kalau review hanya positif semua. Dan juga tak ada yang sempurna di dunia ini. Bagiku, novel ini bisa membuat kita ikut membayangkan kejadian yang terjadi secara nyata. Namun kekurangannya, masih terdapat banyak typo dalam bukunya. Lalu pengembangan tokohnya baik, namun tokoh Maryam si adik kurang berkembang dan tetap digambarkan seperti anak kecil meski bertahun-tahun sudah berlalu. Dan terkadang, kejadian yang satu dan lainnya juga tak digambarkan secara detail untuk peralihan adegan. Namun itu semua tak masalah, karena penulis berhasil membawa kita masuk dalam dunia di dalam Nyala Semesta. 

Bagiku novel ini lebih bernilai dari sekadar bacaan, ia adalab pembakar ruhiyah.

Jika ditanya akan merekomendasikan apa untuk bacaan anak muda, aku akan menjawab: novel ini wajib dibaca! Agar generasi kita tak terlena dalam kenyamanan dunia dan hanya terbuai dengan tiktok, instagram, serta glamornya hidup.

This is not happening there, but its happening now!

Dan kini, saatnya kita juga ikut berjuang. Kita punya segalanya untuk turut melawan. Jari yang bebas tak terpenjara, raga yang sehat, hidup yang layak. Bagaimanalah kita hanya akan diam saat melihat serpihan jiwa kita, saudara kita di Palestina dianiaya?

Sungguh, jangan diam.

Sang penulis juga menuliskan pesan di akhir halaman,

"Kisahnya selesai. Kini giliranmu, memulai."



Aku jadi ingin sharing tentang gagasanku. Seperti kata sang penulis, ayo kita memulai sesuatu. Buat sesuatu meski kecil. Meski sekecil repost postingan tentang Palestina. Jangan diam, itu bukti kita melawan dan kemana kita berpihak.

Dan di akhir halaman, setidaknya ada tiga cara yang bisa kita lakukan untuk turut membantu: PRAY, DONATE, SHARE!

Sesudah membaca novel ini, aku punya ide untuk makin melebarkan informasi Kepalestinaan di sekitarku, di kampusku. Dengan membentuk divisi baru atau minimal program kerja baru yang fokus pada Kepalestinaan di organisasi Lembaga Dakwah Kampus. Itu gagasanku, kawan. Mana gagasanmu?

Mari kita berjuang bersama :)


Akhirnya, resensi sekaligus review novel Nyala Semesta ini selesai sampai di sini. Tak berhenti kusampaikan, semua orang wajib baca!

Karena, "A ship in harbor is safe, but that's not why ships are build." Kita harus berani meninggalkan zona nyaman untuk terus berjuang.

Sekian, dariku yang juga masih berusaha berjuang. Semoga ada manfaat yang bisa kau ambil dari membaca tulisanku.

Untukmu yang baru akan membaca novel ini kuucapkan, selamat berpetualang menyelami Gaza dan segala mukjizatnya.


11.52 AM.







Komentar

Postingan Populer