Jejakkakiku: Turki, Negeri Sejuta Mimpi
Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar tentang Turki?
Presidennya yang tegas dan terdepan membela umat Islam?
Balon udaranya yang memesona?
Bunga tulipnya yang menawan?
Hagia Sophia yang sempat jadi kontroversi?
Atau, runtuhnya khalifah terakhir di negeri ini?
Apapun itu, Turki memang negara yang penuh pesona. Sejuta
mimpi, kataku. Mengunjunginya adalah hal yang amat kusyukuri. Allah mengizinkan
jejak kaki ini tertapak di sana, tertinggal di hamparan salju musim dingin yang
mulai mencair.
Jujur, Turki bukanlah negara yang ada di urutan pertama
wishlist-ku. Tapi, Allah menuntunku ke sini dan aku sadar, korelasi takdir
hidupku menyuruh aku untuk kesini untuk melihat kebesaran-Nya.
So where should I start?
Mungkin aku jelaskan dulu, aku pergi ke Turki dalam rangka
mengikuti event Istanbul Youth Summit yang diadakan di Istanbul. Aku punya prinsip, kemanapun aku pergi
ke luar negeri, harus ada tujuan pasti yang aku bawa, tidak hanya jalan-jalan
semata untuk buang duit. Maka dari itu, mengikuti event ini menjadi salah satu
jalan ninjaku, ehehe.
Istanbul Youth Summit 22-25 March 2021 |
Event Istanbul Youth Summit memakan waktu empat hari. Acara yang diadakan di Ramada Hotel itu berakhir dengan meriah, menyisakan lengang di hati saat aku harus berpisah dengan teman-teman satu kelompokku (cielah wkwk). Tapi setelah itu, aku tidak langsung pulang dong pastinya. Aku yang dari Indonesia memang berangkat menggunakan travel, bersama rombongan Gulado Travel selanjutnya akan berkeliling beberapa kota di Turki hingga hari terakhir kami pulang nanti.
So let’s go!
Hari ini, kami bertolak dari Güngören, Istanbul, menggunakan bus menuju
kota Bursa. Dari kaca bus, nampak pemandangan kota yang ramai. Hamparan indah kota Istanbul yang istimewa ini membuat aku tak
henti mengarahkan kamera ke luar jendela, setiap sudut sayang jika tak
diabadikan. Nanti di hari-hari terakhir, kami akan kembali lagi ke Istanbul.
Jadi rute perjalanan ini yaitu Bursa-Kusadasi-Pamukkale-Konya-Cappadocia-Ankara-Istanbul.
Sinar matahari yang bersinar lembut tetap tak bisa
mengalahkan hawa dingin yang menembus jaket. Suhu saat itu sekitar 0-3 derajat Celcius. Kami melintasi indahnya Selat Bosphorus, menyeberangi daratan
Eropa menuju Asia lewat jembatan Bosphorus.
Beberapa jam perjalanan, daratan yang terlihat lewat kaca
jendela mulai berubah. Pepohonan hijau dan sinar matahari meredup seiring
dekatnya kami dengan Kota Bursa. Ya, kota ini memang kota saljunya Turki. Di
kota ini, terdapat Gunung Uludag yang artinya ‘gunung besar’. Dari jauh, gunung
ini nampak seperti semangkuk eskrim vanilla besar. Saljunya masih turun lebat
meski musim semi akan segera menghampiri.
Pemandangan di luar jendela |
Kami berkunjung ke toko pembuatan Turkish Delight atau manisan turki yang amat terkenal, Munira. Harga Turkish delight di sana memang agak mahal dan awalnya aku sempat menyesal beli karena kupikir aku buang-buang uang. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan manisan dari tempat lain yang harganya lebih murah, kualitasnya juga jauh berbeda. Lebih enak juga pastinya. Wkwk.
Turkish Delight varian kacang pistachio yang sudah dipotong-potong |
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kusadasi untuk bermalam. Semakin jauh meninggalkan hamparan salju putih yang berkilauan. Sampai di hotel, waktu sudah hampir tengah malam dan hawa dingin menusuk tulang. Malam itu, aku belum sadar kalau hotelku itu berada di pinggir pantai Kusadasi. Dan ketika matahari terbit esok paginya… wuaa aku takjub memandang hamparan laut sejauh mata memandang dari balkon kamarku.
Lihatlah, di depan sana, laut Mediterania terhampar. Hamparan teluk
Laut Aegea sedang menyambut hari baru. Gugusan horizon yang berkilauan dengan
sinar matahari terbit membuat sekeliling berwarna seperti tersepuh emas. Kata
pemandu wisataku, di depan sana ada daratan Yunani. Aku melebarkan pandangan
sejauh mata, menikmati keindahan-Nya yang tak ada habisnya. Saat kami sarapan
pun, pemandangan laut menjadi hiasannya karena cafetaria Hotel Korumar De Luxe
ini menghadap langsung ke sana.
Cantik ya? |
Dari Kusadasi, kami bertolak ke Kota Izmir yang dikenal sebagai kota dengan penduduk yang cantik-cantik. Iyakah? Gak tau juga haha. Kota ini juga dikenal dengan warisan arsitektur Kota Romawi Kuno.
Pertama, kami
mengunjungi Caliga Pelle, toko kerajinan pakaian yang amat terkenal. Ternyata,
banyak brand-brand pakaian terkenal di seluruh dunia yang diproduksi di Izmir.
Ketika kami mengunjungi Caliga Pelle, kami diajak menonton fashion show dari
koleksi jaket musim dingin yang cantik-cantik, tapi harganya juga menarik
hehehe. Berapa kali lipat dari biaya UKT-ku dong :’) jadi karena tidak mungkin
beli juga, kita hanya menonton model yang emang cakep-cakep membawakan runaway
di panggung. Lucunya, ketika sesi akhir, beberapa teman ditarik ke atas
panggung untuk ikut menjadi model. Kocak pokoknya nontonnya haha.
Foto dulu cekrek |
Nah ini pas baru selesai runaway |
Setelah melihat koleksi jaket cakep-cakep tapi mahal itu, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Isabey. Masjid Isa Bey yang dibangun pada tahun 1374-75 adalah salah satu karya seni arsitektur tertua dan paling mengesankan yang tersisa dari Anatolia Turki. Masjid ini memiliki dua kubah dan terletak di tengah antara gereja dan kuil, yakni 300 meter dari reruntuhan Kuil Artemis dan 250 meter dari pintu masuk ke Basilika St. Saint John.
Di sana hanya beberapa menit saja, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Ephesus, salah satu peninggalan sejarah sisa kota kuno di jaman Romawi.
Jalanan utama kota Ephesus |
Salah satu reruntuhan bangunan |
Patung Dewi Nike. Mirip logo Nike kan? Karena emang terinspirasi dari sini |
Ephesus Ancient Theater |
Ada beberapa cerita kuno yang ternyata melatarbelakangi pengetahuan saat ini juga. Misalnya, lambang kesehatan ular meliuk-liuk ternyata bermula dari sini, saat ada pasien yang sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh dokter, tapi ternyata ia sembuh saat meminum bisa ular.
Lambang kesehatan atau Rod of Asclepius ft. kucing yang eksis difoto |
Tahu asal mula diciptakan parfum? Dari sini juga tempatnya. Di Ephesus, terdapat toilet kuno yang berupa toilet duduk yang berjejer. Pada zaman dahulu, toilet itu digunakan sebagai tempat untuk bersosialisasi bagi para bangsawan dan masyarakat kelas atas, loh. Jadi mereka ngobrol-ngobrol dan pdkt sambil duduk di toilet :’) Lalu mereka membersihkan diri dengan lap-lap gitu ke tirai di sana, jadi bayangkan bagaimana baunya. Maka dari itu, mereka menciptakan parfum agar dapat digunakan sebagai pengharum ruangan.
Ada pula asal muasal sepatu high heels, diciptakan karena mereka
butuh alas kaki dengan alas yang tinggi agar tidak menginjak kotoran-kotoran
manusia di sepanjang jalan. Yaampun, kreatif tapi ada-ada aja ya.
Kami lalu melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, yaitu
Pamukkale. Perjalanan panjang ini tidak terasa karena aku isi dengan
overthinking mikirin BEM, tugas, dan Mapres :”) healah curhat wkwk.
Di Pamukkale, pertama kami mengunjungi kota kuno Hierapolis.
Mirip-mirip seperti Ephesus, namun lebih kecil dan tempatnya di atas bukit. Hierapolis
adalah sebuah kota kuno yang terletak di mata air panas di Phrygia di Anatolia
barat daya, berupa reruntuhan kota tua zaman Romawi kuno yang dibangun pada
abad ke-2 SM.
Gerbang masuk kota |
Reruntuhan bangunan kota |
Untuk menanjak, kami menggunakan sebuah minivan. Udara di luar dingiiiin sekali. Angin yang berhembus membawa gigil yang menusuk. Aku melangkah menuju colosseum sambil merapatkan jaket. Di Hierapolis juga terdapat teater, namun lebih sedikit kapasitasnya. Meski begitu, bangunannya masih lebih awet dan komplit.
Roman theatre of Hierapolis |
![]() |
Pamukkale tampak dari atas (photo source from google) |
MasyaAllah, aku lagi-lagi takjub menatap ajaibnya alam bertransformasi. Undakan teras kapur ini membentuk semacam balkon yang terisi air hangat dari mata air panas alami, yang berwarna biruu cerah sejernih permata. Memang sih, airnya panas. Namun lantai kapurnya, brrr dingin sekalii sampai aku harus berjingkat kaki. Soalnya kalo kelamaan napak, kakinya kebas cuy beku.
Teras kapur sejernih permata |
Aslinya kedinginan~ |
Setelah puas memandangi indahnya Pamukkale, kami pergi dan bermalam di hotel untuk besoknya melanjutkan perjalanan ke Kota Konya.
Esok paginya, kami disambut dengan balon udara yang melambung
di langit fajar Pamukkale. Memang tak terlalu banyak, namun tetap sangat cantik
dilatarbelakangi gunung-gunung kapur yang putih bak permata. Akhirnya kami
mengucapkan selamat tinggal pada kota ini.
Salju di rest area |
Kucing imut yang kutemui di restoran |
Bertolak ke Konya, memberi warna tersendiri untuk perjalanan
ini. Ali, pemandu kami mengatakan, Konya adalah kota yang kental dengan nuansa
Islam. Konya juga merupakan kota pelajar, kami pun melewati universitas yang
ada di sini. Dan di kota ini, terdapat makam seorang penyair sufi terkenal,
siapa lagi kalau bukan Jalaludin Rumi. Maka dari itu, kami mengunjungi Mevlana
Musezi/ Museum Mevlana, tempat dimana warisan-warisan Jalaludin Rumi berada.
Bendera suku-suku kuno di Turki |
Foto duluu di depan masjid di kompleks makam |
Museum ini berupa beberapa bangunan terpisah, dan terdapat satu kompleks masjid di depan bangunan makam. Memasuki bangunan makam tersebut, kami wajib membungkus alas kaki kami dengan semacam kantong kresek agar tidak mengotori ruangan.
Perasaan pertama yang aku rasakan saat masuk ke sana adalah, merinding. Ruangan makam itu tenang, dengan lantunan musik sufi yang mengalun di udara dingin. Entahlah, tapi aku merasakan suasana mencekam wkwkwk. Mungkin karena efek musiknya, asli deh bikin bulu kuduk berdiri.
Rombongan turis memadati makam Jalaludin Rumi yang terbungkus semacam kubah kecil, dengan ukiran-ukiran emas di sekelilingnya. Di sana, banyak juga peziarah yang menengadahkan tangan untuk berdoa. Mungkin mendoakan almarhum atau bagaimana, tidak tahu. Karena berdoa kepada mayit kan tidak boleh ya guys..
Di sana juga terdapat beberapa peninggalan Jalaludin Rumi,
seperti baju yang ia pakai, lembaran-lembaran Alquran, sorban, dan lain
sebagainya. Dan juga.. terdapat penutup kaca di tengah ruangan, berisikan kotak
kecil. Konon katanya, itu adalah janggut Rasulullah SAW. Aku memandangnya
takjub dari luar.
Salah satu Alquran tulisan tangan |
Kotak berisi janggut Rasulullah |
Keluar dari sana, aku lega karena terbebas dari alunan musik
tadi. Rombongan kami lalu berfoto di depan jejeran pohon cherry blossom yang
bunganya mulai muncul bermekaran. Saat kami berfoto, tiba-tiba datang seorang
bapak dan dengan riangnya menyapa kami.
“Assalamualaykum, Malaysia or Indonesia?”
Serempak kami menjawab, “Indonesia!”
Dan bapak tersebut menyapa kami dengan ramah dalam bahasa
inggris, juga berdoa untuk kami dan saudara sesama muslim. Mendengarnya, aku
terharu. Di bagian bumi yang jauh pun, kita tetap menemukan saudara seiman
kita. Ucapan salam yang biasa saja kita dengar setiap hari, adalah doa paling
berarti.
Assalamualaykum, may the peace be upon you.
Ah, semoga umat muslim bisa saling menyapa dan bersatu di
manapun. Dengan itu, kedamaian akan kita rasakan dimana saja :’)
Salah satu sudut jalanan Konya |
Beranjak dari Museum Mevlana, kami berjalan kaki sekitar 20 menit menuju bus. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan kota paling cantik, Cappadocia. Perjalanan memakan waktu berjam-jam, namun kami berhenti sejenak di rest area.
Kami sempat turun dan menikmati pemandangan yang kata teman-temanku, mirip Radiator Springs di film Cars. Memang betul sih, soalnya jalanan di Turki indah-indah semua pemandangannya. Dari mulai yang bersalju, hamparan padang rumput, pemukiman penduduk, hingga jalanan yang kanan kirinya dipagari pegunungan. MasyaAllah, semuanya cantik pokoknya. Bahkan, kebun buah zaitun dan beri-berian di sana pun tertata rapi, semua dalam barisan yang simetris seperti baris berbaris. Maka dari itu, jika tidak tidur aku selalu mengambil gambar lewat kaca jendela saat perjalanan.
Deretan pohon di pinggir jalan |
Salah satu persimpangan jalan |
Rumah petak dilatari perbukitan dan tanah perkebunan |
Next, malamnya kami sampai di Cappadocia. Matahari sudah
terbenam, gelap gulita mengungkung kota. Setiba di halaman hotel, tanganku
menengadah dan merasakan butir salju sehalus kapas menyapa kulit. Lampu-lampu
yang cahayanya membias membuat butiran salju yang turun semakin terlihat jelas.
Aku tersenyum lagi, menatap indahnya salju di Capadoccia.
Hiasan di luar kamar hotel |
Setelah makan malam di restoran yang didesain seperti gua, kami masuk ke kamar masing-masing. Hotel yang kami tempati bernama Fossil Cave Hotel, dan sesuai namanya, memang seperti gua dengan arsitektur batu berwarna putih. Interiornya didesain seperti masuk ke dalam gua, namun tetap nyaman. Bahkan kamar mandinya juga ada bathub-nya.
Salah satu interior kamar |
Ada yang lucu malam itu. Saat aku dan temanku masuk kamar,
seekor kucing membuntuti kami. Ia masuk lewat celah kaki dan menyelinap ke
pintu, lalu akhirnya nangkring di atas heater kamar. Oh, mungkin dia kedinginan
di luar, pikirku. Aku lalu beberes dan mandi. Dan saat menunggu temanku yang
sedang di kamar mandi, aku ketiduran di tempat tidurku dalam keadaan belum
shalat. Akhirnya tengah malam aku terbangun untuk shalat, dan kaget melihat si
kucing sudah tidur pulas di depan mataku. Yaampun, jadi aku malam ini tidur
bersama kucing :D mana pula santai banget dia, berasa dia majikannya haha.
Setelah shalat, aku memutuskan tidak tidur lagi karenaa
banyak tugas yang menungguku hiks. Akhirnya aku menyalakan laptop untuk
menyicil membuat KTI Mapres, ditemani si kucing yang tiba-tiba terbangun, lalu
dia PINDAH KE ATASKU wkwkwk. Minta dielus-elus. Baiklah, meski aslinya aku tak
terlalu suka kucing, malam ini aku ngalah deh cing.
Esok paginya, ada beberapa teman kami yang mau naik balon udara. Kalau aku skip deh, karena… mahal buk. Bayar 2 jt 500 dulu, baru bisa naik. Okelah, aku jual ginjal dulu kali ya? Makanya mungkin harus kesini lagi, dengan genggaman tangan udah ada gandengan, xixixi (candaa :D).
Pemandangan rumah-rumah kotak dari batu yang terlihat dari atap hotel |
Lambang keberuntungan Cappadocia tergantung di pohon |
Aku dan si kucing yang bobo semalem |
Setelah keluar dari hotel, kami berkeliling Cappadocia untuk melihat indahnya kota unik ini. Pertama, kami mengunjungi Göreme Valley, hamparan lembah batu berwarna coklat sejauh mata memandang. Sepanjang perjalanan, mataku mengerjap takjub memandang hamparan kota batu yang spektakuler. Lanskap lembah Göreme yang spektakuler ini dibentuk oleh erosi. Di Göreme Valley juga terdapat batu yang dipahat dari zaman Bizantium, serta rumah, desa, gua dan kota-kota bawah tanah, sisa-sisa habitat manusia tradisional dari abad 4 masehi.
Lanskap pemandangan Goreme Valley |
Foto dulu cekrek. ft. sisa salju di atas bukit batu |
Di sini, beberapa temanku membeli eskrim Turki yang terkenal dengan kejahilan penjualnya. Tau, kan? Pasti tau lah wkwk. Harga eskrim di sini 5 lira per scoop-nya. Ketika kami berfoto, beberapa fotografer ikut memfoto kami. Ternyata ketika hendak pulang, foto kami tadi dicetak dalam sebuah album yang cantik bergambar balon udara Cappadocia. Harganya hanya 15 lira saja, jadi aku auto beli hihi.
Dari Goreme Valley, kami
melanjutkan perjalanan ke sebuah pusat industri kerajinan khas Cappadocia.
Pertama, kami mendatangi sebuah toko perhiasan yang menyediakan
perhiasan-perhiasan cantik, terutama perhiasan berwarna hijau ruby khas
Cappadocia. Kilauan emas dan perak membuatku silau, tapi aku nyadar diri lah ya
ga punya duit wkwkwkwk. And I’m not a typical girl who loves fancy jewelry.
Jadi cuma liat-liat aja udah cukup, malah kalau terlalu lama jadi membosankan.
Salah satu dari ribuan perhiasan yang ada di sini |
Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju toko pembuatan pottery atau kerajinan keramik. Vanesa pottery nama tempatnya. Di sana kami ditunjukkan cara membuat cawan/gelas dari tanah liat, dengan alat yang diputar di kaki. Untuk menjadi sebuah gelas keramik yang utuh, dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk proses pembakaran dan pewarnaan. Tingkat kerumitan motif dan desain juga mempengaruhi harga.
Pintu masuk |
Beberapa contoh kerajinan keramik |
Calon keramik yang baru berupa tanah liat dan sudah dibentuk |
Pemilik toko menunjukkan kerumitan motif |
Kami juga ditunjukkan gallery mereka, yang sayangnya tidak diperbolehkan mengambil foto di dalamnya, tapi tetep aja kami diam-diam foto, yang akhirnya malu bgt karena ketauan dong!! Ternyata ada CCTV, duh malu bgt pokonya ya ampun 😂
Di gallery tersebut, terdapat
ratusan bahkan ribuan kerajinan keramik yang cantik-cantiik sekali, bahkan ada
hiasan kaligrafi keramik berlafadz Allah, Muhammad, dan asmaul husna yang
menyala berpendar dalam gelap. Ini kalau aku anak sultan, auto beli deh haha.
Setelah puas melihat-lihat dan membeli gantungan tas keramik yang harganya
paling rasional di kantong mahasiswa, kami melanjutkan perjalanan.
Jalanan yang berliku menampilkan pemandangan menawan. Lanskap alam Cappadocia tidak pernah mengecewakan sejauh mata memandang.
Kali ini, kami menuju Pigeon'line Uçhisar atau Lembah Burung Merpati. Langit biru cerah menjadi latar pemandangan yang luar biasa di bawah sana. Lembah ini menurun ke bawah, dengan tanah seperti pasir berwarna coklat keputihan. Ratusan burung merpati memadati lembah. Sebagian turis melemparkan umpan berupa biji-bijian, sebagian lain berfoto ria.
Lanskap pemandangan dari atas |
Aku ft. burung merpati unyu-unyu |
Pemandangan spektakuler tercipta saat kawanan merpati ini terbang bersamaan. Kami berteriak senang, takjub menatap kepakan sayap-sayap kecil itu bergerak bersama, meliuk di langit sebiru zamrud dengan latar rumah-rumah dan gua batu Cappadocia. Merpati-merpati itu terbang menuju gunung batu di seberang, lalu tak terlihat lagi hingga kawanan lain berganti mengisi lembah. Pemandangan yang cantik, seperti kanvas yang dilukis. Betapa indah ciptaan Allah, betapa luas alam semesta. Aku tidak berhenti takjub memandangnya.
Aku ft. burung merpati terbang |
Aga takut atau gimana ya mbaknya? |
Setelah puas berfoto, kami
meneruskan perjalanan ke tempat selanjutnya. Kali ini kami menyempatkan melihat
proses pembuatan karpet atau permadani khas Turki. Angin dingin masih terus
berhembus. Aku yang terlalu pede tidak memakai jaket ketika turun dari bus,
menyesal karena ternyata hawa di dalam masih amat dingin.
Proses pembuatan karpet ini
ternyata masih menggunakan cara manual dengan alat tenun konvensional. Para
wanita di Cappadocia terbiasa menenun untuk membuat karpet sendiri. Biasanya,
satu karpet membutuhkan waktu tenun hingga berbulan-bulan tergantung tingkat
kerumitan motifnya. Benang yang digunakan bervariasi, mulai dari benang sutra
hingga wol, dan semuanya menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan alam yang
ada.
Proses menenun kain |
Beranjak dari sana, kami menuju tempat selanjutnya yakni salah satu gua kuno yang berisi sebuah desa jaman dahulu. Kami menyusuri Lorong-lorong gua yang dahulu dipakai sebagai rumah tinggal. Ada dapur, tempat tidur, hingga ruang makan dan tempat bersantai.
Salah satu ruangan dalam gua |
Di daerah yang termasuk pedesaan itu, kami bertemu anak-anak Cappadocia yang menjajakan kerudung pashmina. Mereka tertawa, sesekali melambaikan tangan ke arah kameraku. Sepertinya mereka sering bertemu turis Indonesia, bahkan mereka mendemonstrasikan angka-angka dalam bahasa Indonesia dalam suara keras.
“Satu, dua, tiga, empat, lima,
enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh, Indonesia baguss!!” Teriak mereka bersamaan
dan kami tertawa.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini, tujuannya adalah ibukota Turki, Ankara. Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Namun sebelum itu, di tengah perjalanan, kami mampir ke sebuah danau luas yang berair asin, Tuz Golu atau Danau Tuz.
Tuz Golu disiram cahaya senja |
Aku ft. danau plus matahari tenggelam |
Lalu lintas pagi di Ankara |
Aku ft. jalanan ramai |
Hari ini, kami akan mengunjungi bangunan yang penting di Ankara, yaitu Anitkabir atau Makam Attaturk. I know some of you maybe will questioning, buat apa kesana. Tapi aku hanya mengikuti travel saja, yasudah. Lagipula aku penasaran, kata orang Mustafa Kemal Attaturk dikenai azab sampai makamnya jadi bau? Coba, aku buktikan haha.
Tapi sebelum itu, aku hendak
menjelaskan. Mustafa Kemal Attaturk adalah presiden pertama Republik Turki.
Orang pertama yang menerapkan sistem sekuler di Turki, memisahkan antara agama
dan kehidupan sehari-hari. Sejak ia berkuasa, ia meniadakan Islam dari bumi
Turki. Melarang wanita menggunakan hijab, bahkan mengubah adzan menjadi
berbahasa Turki.
Dilansir dari tirto.id, ia terlahir
dengan nama Ali Rıza oğlu Mustafa--yang berarti Mustafa anak dari Ali Riza—dan
ia juga dikenal dengan nama Mustafa Kemal Pasha. Nama tengahnya “Kemal” yang
berarti kesempurnaan, diberikan oleh seorang guru matematikanya karena
kecerdasannya dalam bidang akademik. Kemudian, karena ia membangun Turki
menjadi negara sekuler yang modern, pada 1934 parlemen memberinya tambahan nama
"Atatürk" yang berarti "Bapak orang-orang Turki".
![]() |
Mustafa Kemal Ataturk |
Pertama, ia meminta dibubarkannya departemen Hukum Kanonik. Pembubaran departemen itu meruntuhkan segala aturan negara yang berdasarkan hukum agama. Kedua, ia meminta dunia akademik diatur secara tunggal. Aturan ini kemudian mencabut izin pendidikan bagi sekolah-sekolah agama/ madrasah. Terakhir, ia menuntut agar khalifah dibubarkan. Dengan demikian, berakhirlah sejarah kekhalifahan Islam di atas muka bumi.
Dahulu saat aku duduk di kelas dua SMA, aku belajar Tarikh Islam. Salah satunya membahas mengenai khalifah terakhir, Sultan Abdul Hamid II.
![]() |
Sultan Abdul Hamid II |
Aku masih ingat, waktu itu air mataku jatuh membasahi buku Tarikh yang sampulnya berwarna coklat. Membaca kisah hidupnya, perjuangannya mempertahankan kekhalifahan Islam, dan upaya terakhirnya untuk melindungi Palestina membuatku menangis. Tidak kusangka, hari ini aku berdiri di depan makam musuhnya saat itu.
![]() |
Anitkabir |
Bangunan berbentuk kubus yang megah dengan banyak pilar ini lengang, dijaga oleh beberapa tentara yang hilir mudik kesana kemari. Maklum, karena meski bagi orang-orang Muslim Ataturk adalah musuh Islam, bagi rakyat Turki ia adalah pahlawan besar. Remaja-remaja Turki mengidolakannya lebih daripada Presiden Erdogan. Bahkan katanya, mereka rela mentato lengan mereka dengan wajah Ataturk yang mereka agung-agungkan. Ya, begitulah nasionalisme bangsa Turki yang dahulu dipengaruhi oleh ajaran barat.
Membicarakan sejarah memang panjang. Dahulu, kepemimpinan Islam melemah karena kurangnya implementasi ajaran Alquran oleh pemimpin-pemimpinnya. Oleh karena itulah, kepercayaan masyarakat pun turut menurun. Setidaknya itulah yang kubaca dari Buku Tarikhku dulu. Maka dari itu, kita sebagai Muslim harusnya menunjukkan rahmatan lil alamin dari agama kita. Bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Jika ada yang tak sempurna, ialah orangnya, bukan agamanya. Alquran dan Islam adalah kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu yang harus kita jaga..
![]() |
Presiden Recep Tayib Erdogan |
![]() |
Foto dulu cekrek |
Setelah dari sana dan mengenang
sejarah panjang kekhalifahan Islam, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini,
kembali menuju kota paling spesial, kota bukti keagungan Islam, kota berisi
sejuta impian, kota yang dilewati dua benua: Istanbul.
bersambung.
Mantap mba nipaw
BalasHapusLuar biasa....smoga ilmu dan pngalamannya bisa bermaanfaat....
BalasHapusSuperr dan menginspirasi. Ica sempatkan mampir ke smpit BIK Boarding Ca. Ditunggu ya
BalasHapusSugguh sanggat menginspirasi, mba
BalasHapus