Jejakkakiku: Turki, Negeri Sejuta Mimpi


Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar tentang Turki?

Presidennya yang tegas dan terdepan membela umat Islam?

Balon udaranya yang memesona?

Bunga tulipnya yang menawan?

Hagia Sophia yang sempat jadi kontroversi?

Atau, runtuhnya khalifah terakhir di negeri ini?

 

Apapun itu, Turki memang negara yang penuh pesona. Sejuta mimpi, kataku. Mengunjunginya adalah hal yang amat kusyukuri. Allah mengizinkan jejak kaki ini tertapak di sana, tertinggal di hamparan salju musim dingin yang mulai mencair.

Jujur, Turki bukanlah negara yang ada di urutan pertama wishlist-ku. Tapi, Allah menuntunku ke sini dan aku sadar, korelasi takdir hidupku menyuruh aku untuk kesini untuk melihat kebesaran-Nya.



So where should I start?

Mungkin aku jelaskan dulu, aku pergi ke Turki dalam rangka mengikuti event Istanbul Youth Summit yang diadakan di Istanbul. Aku punya prinsip, kemanapun aku pergi ke luar negeri, harus ada tujuan pasti yang aku bawa, tidak hanya jalan-jalan semata untuk buang duit. Maka dari itu, mengikuti event ini menjadi salah satu jalan ninjaku, ehehe. 

Istanbul Youth Summit
22-25 March 2021

Event Istanbul Youth Summit memakan waktu empat hari. Acara yang diadakan di Ramada Hotel itu berakhir dengan meriah, menyisakan lengang di hati saat aku harus berpisah dengan teman-teman satu kelompokku (cielah wkwk). Tapi setelah itu, aku tidak langsung pulang dong pastinya. Aku yang dari Indonesia memang berangkat menggunakan travel, bersama rombongan Gulado Travel selanjutnya akan berkeliling beberapa kota di Turki hingga hari terakhir kami pulang nanti.

So let’s go!

Hari ini, kami bertolak dari Güngören, Istanbul, menggunakan bus menuju kota Bursa. Dari kaca bus, nampak pemandangan kota yang ramai. Hamparan indah kota Istanbul yang istimewa ini membuat aku tak henti mengarahkan kamera ke luar jendela, setiap sudut sayang jika tak diabadikan. Nanti di hari-hari terakhir, kami akan kembali lagi ke Istanbul. Jadi rute perjalanan ini yaitu Bursa-Kusadasi-Pamukkale-Konya-Cappadocia-Ankara-Istanbul.

Sinar matahari yang bersinar lembut tetap tak bisa mengalahkan hawa dingin yang menembus jaket. Suhu saat itu sekitar 0-3 derajat Celcius. Kami melintasi indahnya Selat Bosphorus, menyeberangi daratan Eropa menuju Asia lewat jembatan Bosphorus.

Beberapa jam perjalanan, daratan yang terlihat lewat kaca jendela mulai berubah. Pepohonan hijau dan sinar matahari meredup seiring dekatnya kami dengan Kota Bursa. Ya, kota ini memang kota saljunya Turki. Di kota ini, terdapat Gunung Uludag yang artinya ‘gunung besar’. Dari jauh, gunung ini nampak seperti semangkuk eskrim vanilla besar. Saljunya masih turun lebat meski musim semi akan segera menghampiri.

Pemandangan di luar jendela

Kami berkunjung ke toko pembuatan Turkish Delight atau manisan turki yang amat terkenal, Munira. Harga Turkish delight di sana memang agak mahal dan awalnya aku sempat menyesal beli karena kupikir aku buang-buang uang. Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan manisan dari tempat lain yang harganya lebih murah, kualitasnya juga jauh berbeda. Lebih enak juga pastinya. Wkwk.

Turkish Delight varian kacang pistachio yang sudah dipotong-potong

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kusadasi untuk bermalam. Semakin jauh meninggalkan hamparan salju putih yang berkilauan. Sampai di hotel, waktu sudah hampir tengah malam dan hawa dingin menusuk tulang. Malam itu, aku belum sadar kalau hotelku itu berada di pinggir pantai Kusadasi. Dan ketika matahari terbit esok paginya… wuaa aku takjub memandang hamparan laut sejauh mata memandang dari balkon kamarku.


Lihatlah, di depan sana, laut Mediterania terhampar. Hamparan teluk Laut Aegea sedang menyambut hari baru. Gugusan horizon yang berkilauan dengan sinar matahari terbit membuat sekeliling berwarna seperti tersepuh emas. Kata pemandu wisataku, di depan sana ada daratan Yunani. Aku melebarkan pandangan sejauh mata, menikmati keindahan-Nya yang tak ada habisnya. Saat kami sarapan pun, pemandangan laut menjadi hiasannya karena cafetaria Hotel Korumar De Luxe ini menghadap langsung ke sana.

Cantik ya?

Dari Kusadasi, kami bertolak ke Kota Izmir yang dikenal sebagai kota dengan penduduk yang cantik-cantik. Iyakah? Gak tau juga haha. Kota ini juga dikenal dengan warisan arsitektur Kota Romawi Kuno.

Pertama, kami mengunjungi Caliga Pelle, toko kerajinan pakaian yang amat terkenal. Ternyata, banyak brand-brand pakaian terkenal di seluruh dunia yang diproduksi di Izmir. Ketika kami mengunjungi Caliga Pelle, kami diajak menonton fashion show dari koleksi jaket musim dingin yang cantik-cantik, tapi harganya juga menarik hehehe. Berapa kali lipat dari biaya UKT-ku dong :’) jadi karena tidak mungkin beli juga, kita hanya menonton model yang emang cakep-cakep membawakan runaway di panggung. Lucunya, ketika sesi akhir, beberapa teman ditarik ke atas panggung untuk ikut menjadi model. Kocak pokoknya nontonnya haha.

Foto dulu cekrek

Nah ini pas baru selesai runaway

Setelah melihat koleksi jaket cakep-cakep tapi mahal itu, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Isabey. Masjid Isa Bey yang dibangun pada tahun 1374-75 adalah salah satu karya seni arsitektur tertua dan paling mengesankan yang tersisa dari Anatolia Turki. Masjid ini memiliki dua kubah dan terletak di tengah antara gereja dan kuil, yakni 300 meter dari reruntuhan Kuil Artemis dan 250 meter dari pintu masuk ke Basilika St. Saint John.

Bangunan kubah
Foto dulu di depan air mancur

Di sana hanya beberapa menit saja, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Ephesus, salah satu peninggalan sejarah sisa kota kuno di jaman Romawi.

Jalanan utama kota Ephesus

Masuk ke sana, aku takjub bagaimana masyarakat kuno bisa membangun kota yang megah lengkap dengan pipa air dari tanah yang mengalir ke seluruh kota. Ephesus didirikan pada abad ke 10 SM, sudah ribuan tahun umurnya namun masih bisa kokoh berdiri, meski tak utuh lagi. Jaman dulu kota ini dihuni sekitar 36.000 – 56.000 jiwa dan merupakan salah satu sisa koloni tertua di bumi. Di kota ini pula, banyak terdapat patung-patung Romawi kuno seperti patung Hercules, Dewi Nike, kuil Artemis, hingga Medusa. Terdapat beberapa bangunan kuno seperti Library of Celsus, dan juga teater kuno Ephesus yang dapat menampung sekitar 44.000 orang.

Salah satu reruntuhan bangunan

Patung Dewi Nike. Mirip logo Nike kan? Karena emang terinspirasi dari sini


Library of Celsus

Foto duluu cekrek

Ephesus Ancient Theater

Ada beberapa cerita kuno yang ternyata melatarbelakangi pengetahuan saat ini juga. Misalnya, lambang kesehatan ular meliuk-liuk ternyata bermula dari sini, saat ada pasien yang sakit dan tidak bisa disembuhkan oleh dokter, tapi ternyata ia sembuh saat meminum bisa ular.

Lambang kesehatan atau Rod of Asclepius ft. kucing yang eksis difoto

Tahu asal mula diciptakan parfum? Dari sini juga tempatnya. Di Ephesus, terdapat toilet kuno yang berupa toilet duduk yang berjejer. Pada zaman dahulu, toilet itu digunakan sebagai tempat untuk bersosialisasi bagi para bangsawan dan masyarakat kelas atas, loh. Jadi mereka ngobrol-ngobrol dan pdkt sambil duduk di toilet :’) Lalu mereka membersihkan diri dengan lap-lap gitu ke tirai di sana, jadi bayangkan bagaimana baunya. Maka dari itu, mereka menciptakan parfum agar dapat digunakan sebagai pengharum ruangan.

Ada pula asal muasal sepatu high heels, diciptakan karena mereka butuh alas kaki dengan alas yang tinggi agar tidak menginjak kotoran-kotoran manusia di sepanjang jalan. Yaampun, kreatif tapi ada-ada aja ya.

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, yaitu Pamukkale. Perjalanan panjang ini tidak terasa karena aku isi dengan overthinking mikirin BEM, tugas, dan Mapres :”) healah curhat wkwk.

Di Pamukkale, pertama kami mengunjungi kota kuno Hierapolis. Mirip-mirip seperti Ephesus, namun lebih kecil dan tempatnya di atas bukit. Hierapolis adalah sebuah kota kuno yang terletak di mata air panas di Phrygia di Anatolia barat daya, berupa reruntuhan kota tua zaman Romawi kuno yang dibangun pada abad ke-2 SM. 

Gerbang masuk kota


Reruntuhan bangunan kota

Untuk menanjak, kami menggunakan sebuah minivan. Udara di luar dingiiiin sekali.  Angin yang berhembus membawa gigil yang menusuk. Aku melangkah menuju colosseum sambil merapatkan jaket. Di Hierapolis juga terdapat teater, namun lebih sedikit kapasitasnya. Meski begitu, bangunannya masih lebih awet dan komplit.

Roman theatre of Hierapolis


Dari Hierapolis, kami pergi ke tempat selanjutnya, landmark dari kota ini. Nama Pamukkale berarti ‘benteng kapas’, dan terdapat fenomena alam yang terbentuk dari kapur. Mau tau bagaimana indahnya? Seperti ini.

Pamukkale tampak dari atas
(photo source from google)

MasyaAllah, aku lagi-lagi takjub menatap ajaibnya alam bertransformasi. Undakan teras kapur ini membentuk semacam balkon yang terisi air hangat dari mata air panas alami, yang berwarna biruu cerah sejernih permata. Memang sih, airnya panas. Namun lantai kapurnya, brrr dingin sekalii sampai aku harus berjingkat kaki. Soalnya kalo kelamaan napak, kakinya kebas cuy beku.

Teras kapur sejernih permata

Aslinya kedinginan~

Setelah puas memandangi indahnya Pamukkale, kami pergi dan bermalam di hotel untuk besoknya melanjutkan perjalanan ke Kota Konya.

Esok paginya, kami disambut dengan balon udara yang melambung di langit fajar Pamukkale. Memang tak terlalu banyak, namun tetap sangat cantik dilatarbelakangi gunung-gunung kapur yang putih bak permata. Akhirnya kami mengucapkan selamat tinggal pada kota ini.

Salju di rest area

Kucing imut yang kutemui di restoran

Bertolak ke Konya, memberi warna tersendiri untuk perjalanan ini. Ali, pemandu kami mengatakan, Konya adalah kota yang kental dengan nuansa Islam. Konya juga merupakan kota pelajar, kami pun melewati universitas yang ada di sini. Dan di kota ini, terdapat makam seorang penyair sufi terkenal, siapa lagi kalau bukan Jalaludin Rumi. Maka dari itu, kami mengunjungi Mevlana Musezi/ Museum Mevlana, tempat dimana warisan-warisan Jalaludin Rumi berada.

Bendera suku-suku kuno di Turki

Foto duluu di depan masjid di kompleks makam

Museum ini berupa beberapa bangunan terpisah, dan terdapat satu kompleks masjid di depan bangunan makam. Memasuki bangunan makam tersebut, kami wajib membungkus alas kaki kami dengan semacam kantong kresek agar tidak mengotori ruangan.

Perasaan pertama yang aku rasakan saat masuk ke sana adalah, merinding. Ruangan makam itu tenang, dengan lantunan musik sufi yang mengalun di udara dingin. Entahlah, tapi aku merasakan suasana mencekam wkwkwk. Mungkin karena efek musiknya, asli deh bikin bulu kuduk berdiri.

Rombongan turis memadati makam Jalaludin Rumi yang terbungkus semacam kubah kecil, dengan ukiran-ukiran emas di sekelilingnya. Di sana, banyak juga peziarah yang menengadahkan tangan untuk berdoa. Mungkin mendoakan almarhum atau bagaimana, tidak tahu. Karena berdoa kepada mayit kan tidak boleh ya guys..

Di sana juga terdapat beberapa peninggalan Jalaludin Rumi, seperti baju yang ia pakai, lembaran-lembaran Alquran, sorban, dan lain sebagainya. Dan juga.. terdapat penutup kaca di tengah ruangan, berisikan kotak kecil. Konon katanya, itu adalah janggut Rasulullah SAW. Aku memandangnya takjub dari luar.

Salah satu Alquran tulisan tangan

Kotak berisi janggut Rasulullah

Keluar dari sana, aku lega karena terbebas dari alunan musik tadi. Rombongan kami lalu berfoto di depan jejeran pohon cherry blossom yang bunganya mulai muncul bermekaran. Saat kami berfoto, tiba-tiba datang seorang bapak dan dengan riangnya menyapa kami.

“Assalamualaykum, Malaysia or Indonesia?”

Serempak kami menjawab, “Indonesia!”

Dan bapak tersebut menyapa kami dengan ramah dalam bahasa inggris, juga berdoa untuk kami dan saudara sesama muslim. Mendengarnya, aku terharu. Di bagian bumi yang jauh pun, kita tetap menemukan saudara seiman kita. Ucapan salam yang biasa saja kita dengar setiap hari, adalah doa paling berarti.

Assalamualaykum, may the peace be upon you.

Ah, semoga umat muslim bisa saling menyapa dan bersatu di manapun. Dengan itu, kedamaian akan kita rasakan dimana saja :’)

Salah satu sudut jalanan Konya

Beranjak dari Museum Mevlana, kami berjalan kaki sekitar 20 menit menuju bus. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan kota paling cantik, Cappadocia. Perjalanan memakan waktu berjam-jam, namun kami berhenti sejenak di rest area. 

Kami sempat turun dan menikmati pemandangan yang kata teman-temanku, mirip Radiator Springs di film Cars. Memang betul sih, soalnya jalanan di Turki indah-indah semua pemandangannya. Dari mulai yang bersalju, hamparan padang rumput, pemukiman penduduk, hingga jalanan yang kanan kirinya dipagari pegunungan. MasyaAllah, semuanya cantik pokoknya. Bahkan, kebun buah zaitun dan beri-berian di sana pun tertata rapi, semua dalam barisan yang simetris seperti baris berbaris. Maka dari itu, jika tidak tidur aku selalu mengambil gambar lewat kaca jendela saat perjalanan.

Deretan pohon di pinggir jalan

Salah satu persimpangan jalan

Rumah petak dilatari perbukitan dan tanah perkebunan

Next, malamnya kami sampai di Cappadocia. Matahari sudah terbenam, gelap gulita mengungkung kota. Setiba di halaman hotel, tanganku menengadah dan merasakan butir salju sehalus kapas menyapa kulit. Lampu-lampu yang cahayanya membias membuat butiran salju yang turun semakin terlihat jelas. Aku tersenyum lagi, menatap indahnya salju di Capadoccia.

Hiasan di luar kamar hotel

Setelah makan malam di restoran yang didesain seperti gua, kami masuk ke kamar masing-masing. Hotel yang kami tempati bernama Fossil Cave Hotel, dan sesuai namanya, memang seperti gua dengan arsitektur batu berwarna putih. Interiornya didesain seperti masuk ke dalam gua, namun tetap nyaman. Bahkan kamar mandinya juga ada bathub-nya.

Salah satu interior kamar

Ada yang lucu malam itu. Saat aku dan temanku masuk kamar, seekor kucing membuntuti kami. Ia masuk lewat celah kaki dan menyelinap ke pintu, lalu akhirnya nangkring di atas heater kamar. Oh, mungkin dia kedinginan di luar, pikirku. Aku lalu beberes dan mandi. Dan saat menunggu temanku yang sedang di kamar mandi, aku ketiduran di tempat tidurku dalam keadaan belum shalat. Akhirnya tengah malam aku terbangun untuk shalat, dan kaget melihat si kucing sudah tidur pulas di depan mataku. Yaampun, jadi aku malam ini tidur bersama kucing :D mana pula santai banget dia, berasa dia majikannya haha.

Setelah shalat, aku memutuskan tidak tidur lagi karenaa banyak tugas yang menungguku hiks. Akhirnya aku menyalakan laptop untuk menyicil membuat KTI Mapres, ditemani si kucing yang tiba-tiba terbangun, lalu dia PINDAH KE ATASKU wkwkwk. Minta dielus-elus. Baiklah, meski aslinya aku tak terlalu suka kucing, malam ini aku ngalah deh cing.

Esok paginya, ada beberapa teman kami yang mau naik balon udara. Kalau aku skip deh, karena… mahal buk. Bayar 2 jt 500 dulu, baru bisa naik. Okelah, aku jual ginjal dulu kali ya? Makanya mungkin harus kesini lagi, dengan genggaman tangan udah ada gandengan, xixixi (candaa :D). 

Pemandangan rumah-rumah kotak dari batu yang terlihat dari atap hotel

Lambang keberuntungan Cappadocia tergantung di pohon

Aku dan si kucing yang bobo semalem

Setelah keluar  dari hotel, kami berkeliling Cappadocia untuk melihat indahnya kota unik ini. Pertama, kami mengunjungi Göreme Valley, hamparan lembah batu berwarna coklat sejauh mata memandang. Sepanjang perjalanan, mataku mengerjap takjub memandang hamparan kota batu yang spektakuler. Lanskap lembah Göreme yang spektakuler ini dibentuk oleh erosi. Di Göreme Valley juga terdapat batu yang dipahat dari zaman Bizantium, serta rumah, desa, gua dan kota-kota bawah tanah, sisa-sisa habitat manusia tradisional dari abad 4 masehi.

Lanskap pemandangan Goreme Valley

Foto dulu cekrek. ft. sisa salju di atas bukit batu

Di sini, beberapa temanku membeli eskrim Turki yang terkenal dengan kejahilan penjualnya. Tau, kan? Pasti tau lah wkwk. Harga eskrim di sini 5 lira per scoop-nya. Ketika kami berfoto, beberapa fotografer ikut memfoto kami. Ternyata ketika hendak pulang, foto kami tadi dicetak dalam sebuah album yang cantik bergambar balon udara Cappadocia. Harganya hanya 15 lira saja, jadi aku auto beli hihi.

Dari Goreme Valley, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah pusat industri kerajinan khas Cappadocia. Pertama, kami mendatangi sebuah toko perhiasan yang menyediakan perhiasan-perhiasan cantik, terutama perhiasan berwarna hijau ruby khas Cappadocia. Kilauan emas dan perak membuatku silau, tapi aku nyadar diri lah ya ga punya duit wkwkwkwk. And I’m not a typical girl who loves fancy jewelry. Jadi cuma liat-liat aja udah cukup, malah kalau terlalu lama jadi membosankan.

Salah satu dari ribuan perhiasan yang ada di sini

Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju toko pembuatan pottery atau kerajinan keramik. Vanesa pottery nama tempatnya. Di sana kami ditunjukkan cara membuat cawan/gelas dari tanah liat, dengan alat yang diputar di kaki. Untuk menjadi sebuah gelas keramik yang utuh, dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk proses pembakaran dan pewarnaan. Tingkat kerumitan motif dan desain juga mempengaruhi harga. 

Pintu masuk

Beberapa contoh kerajinan keramik

Calon keramik yang baru berupa tanah liat dan sudah dibentuk

Pemilik toko menunjukkan kerumitan motif

Kami juga ditunjukkan gallery mereka, yang sayangnya tidak diperbolehkan mengambil foto di dalamnya, tapi tetep aja kami diam-diam foto, yang akhirnya malu bgt karena ketauan dong!! Ternyata ada CCTV, duh malu bgt pokonya ya ampun 😂

Di gallery tersebut, terdapat ratusan bahkan ribuan kerajinan keramik yang cantik-cantiik sekali, bahkan ada hiasan kaligrafi keramik berlafadz Allah, Muhammad, dan asmaul husna yang menyala berpendar dalam gelap. Ini kalau aku anak sultan, auto beli deh haha. Setelah puas melihat-lihat dan membeli gantungan tas keramik yang harganya paling rasional di kantong mahasiswa, kami melanjutkan perjalanan.

Jalanan yang berliku menampilkan pemandangan menawan. Lanskap alam Cappadocia tidak pernah mengecewakan sejauh mata memandang. 

Kali ini, kami menuju Pigeon'line Uçhisar atau Lembah Burung Merpati. Langit biru cerah menjadi latar pemandangan yang luar biasa di bawah sana. Lembah ini menurun ke bawah, dengan tanah seperti pasir berwarna coklat keputihan. Ratusan burung merpati memadati lembah. Sebagian turis melemparkan umpan berupa biji-bijian, sebagian lain berfoto ria.

Lanskap pemandangan dari atas

Aku ft. burung merpati unyu-unyu

Pemandangan spektakuler tercipta saat kawanan merpati ini terbang bersamaan. Kami berteriak senang, takjub menatap kepakan sayap-sayap kecil itu bergerak bersama, meliuk di langit sebiru zamrud dengan latar rumah-rumah dan gua batu Cappadocia. Merpati-merpati itu terbang menuju gunung batu di seberang, lalu tak terlihat lagi hingga kawanan lain berganti mengisi lembah. Pemandangan yang cantik, seperti kanvas yang dilukis. Betapa indah ciptaan Allah, betapa luas alam semesta. Aku tidak berhenti takjub memandangnya.

Aku ft. burung merpati terbang


Aga takut atau gimana ya mbaknya?

Setelah puas berfoto, kami meneruskan perjalanan ke tempat selanjutnya. Kali ini kami menyempatkan melihat proses pembuatan karpet atau permadani khas Turki. Angin dingin masih terus berhembus. Aku yang terlalu pede tidak memakai jaket ketika turun dari bus, menyesal karena ternyata hawa di dalam masih amat dingin.

Proses pembuatan karpet ini ternyata masih menggunakan cara manual dengan alat tenun konvensional. Para wanita di Cappadocia terbiasa menenun untuk membuat karpet sendiri. Biasanya, satu karpet membutuhkan waktu tenun hingga berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan motifnya. Benang yang digunakan bervariasi, mulai dari benang sutra hingga wol, dan semuanya menggunakan pewarna alami dari bahan-bahan alam yang ada.

Proses menenun kain


Kami juga ditunjukkan gallery permadani di sana. Mulai dari sajadah hingga karpet, semuanya cantik dan berkualitas tinggi. Tapi.. harganya juga mantab haha. Satu sajadah kecil saja paling murah 150 dollar atau sekitar 2.180.000,00. Yasudah, hanya memandang dan menyentuh karpet-karpet cantik itu saja sudah cukup (sambil disholawatin, ehe).

Gallery karpet permadani

Beranjak dari sana, kami menuju tempat selanjutnya yakni salah satu gua kuno yang berisi sebuah desa jaman dahulu. Kami menyusuri Lorong-lorong gua yang dahulu dipakai sebagai rumah tinggal. Ada dapur, tempat tidur, hingga ruang makan dan tempat bersantai. 

Salah satu ruangan dalam gua

Di daerah yang termasuk pedesaan itu, kami bertemu anak-anak Cappadocia yang menjajakan kerudung pashmina. Mereka tertawa, sesekali melambaikan tangan ke arah kameraku. Sepertinya mereka sering bertemu turis Indonesia, bahkan mereka mendemonstrasikan angka-angka dalam bahasa Indonesia dalam suara keras.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh, Indonesia baguss!!” Teriak mereka bersamaan dan kami tertawa.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini, tujuannya adalah ibukota Turki, Ankara. Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Namun sebelum itu, di tengah perjalanan, kami mampir ke sebuah danau luas yang berair asin, Tuz Golu atau Danau Tuz. 

Tuz Golu disiram cahaya senja

Danau ini merupakan danau yang menjadi sumber utama untuk menyokong kebutuhan garam di Turki, yakni 40% garam di Turki berasal dari danau ini.  Ada berbagai produk yang dijual di sini, yang paling terkenal yaitu krim untuk wajah dan kulit yang terbuat dari garam. Krim garam tersebut dipercaya dapat mengangkat kulit mati, melembapkan, dan menghaluskan kulit. Kami menghabiskan beberapa puluh menit di sana untuk berfoto di pinggir hamparan danau, ditemani matahari yang hampir tenggelam.

Aku ft. danau plus matahari tenggelam

Dari Tuz Golu, kami akhirnya menempuh perjalanan menuju Ankara, kota yang sibuk. Kota ini merupakan pusat pemerintahan Turki, setelah sebelumnya dipindah dari Istanbul sejak Ataturk memimpin. Menurut pemandu wisata, kota ini adalah kota yang biasa saja, haha. Jika hari sudah malam, hanya ada beberapa café yang buka. Sisanya akan tutup sebelum tengah malam. Namun malam ini, kami bermalam hotel di pinggir kota Ankara.

Esok paginya, kami terbangun untuk sarapan. Kota Ankara yang sibuk sudah menunggu. 

Lalu lintas pagi di Ankara

Aku ft. jalanan ramai

Hari ini, kami akan mengunjungi bangunan yang penting di Ankara, yaitu Anitkabir atau Makam Attaturk. I know some of you maybe will questioning, buat apa kesana. Tapi aku hanya mengikuti travel saja, yasudah. Lagipula aku penasaran, kata orang Mustafa Kemal Attaturk dikenai azab sampai makamnya jadi bau? Coba, aku buktikan haha.

Tapi sebelum itu, aku hendak menjelaskan. Mustafa Kemal Attaturk adalah presiden pertama Republik Turki. Orang pertama yang menerapkan sistem sekuler di Turki, memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari. Sejak ia berkuasa, ia meniadakan Islam dari bumi Turki. Melarang wanita menggunakan hijab, bahkan mengubah adzan menjadi berbahasa Turki.

Dilansir dari tirto.id, ia terlahir dengan nama Ali Rıza oğlu Mustafa--yang berarti Mustafa anak dari Ali Riza—dan ia juga dikenal dengan nama Mustafa Kemal Pasha. Nama tengahnya “Kemal” yang berarti kesempurnaan, diberikan oleh seorang guru matematikanya karena kecerdasannya dalam bidang akademik. Kemudian, karena ia membangun Turki menjadi negara sekuler yang modern, pada 1934 parlemen memberinya tambahan nama "Atatürk" yang berarti "Bapak orang-orang Turki".

Mustafa Kemal Ataturk

Ketika Perang Dunia I selesai, Turki dilanda perang dalam negeri. Kemudian Mustafa Kemal mendeklarasikan diri sebagai presiden pertama Turki. Ia populer karena berjasa mengamankan kemenangan Turki pada 1915 dalam Pertempuran Gallipoli. Dalam buku Mustafa Kemal Atatürk: Leadership, Strategy, Conflict (2013:58), Sejarawan Edward J. Erickson mencatat tiga tuntutan Atatürk kepada parlemen Turki. 

Pertama, ia meminta dibubarkannya departemen Hukum Kanonik. Pembubaran departemen itu meruntuhkan segala aturan negara yang berdasarkan hukum agama. Kedua, ia meminta dunia akademik diatur secara tunggal. Aturan ini kemudian mencabut izin pendidikan bagi sekolah-sekolah agama/ madrasah. Terakhir, ia menuntut agar khalifah dibubarkan. Dengan demikian, berakhirlah sejarah kekhalifahan Islam di atas muka bumi.

Dahulu saat aku duduk di kelas dua SMA, aku belajar Tarikh Islam. Salah satunya membahas mengenai khalifah terakhir, Sultan Abdul Hamid II. 

Sultan Abdul Hamid II

Aku masih ingat, waktu itu air mataku jatuh membasahi buku Tarikh yang sampulnya berwarna coklat. Membaca kisah hidupnya, perjuangannya mempertahankan kekhalifahan Islam, dan upaya terakhirnya untuk melindungi Palestina membuatku menangis. Tidak kusangka, hari ini aku berdiri di depan makam musuhnya saat itu.

Anitkabir

Bangunan berbentuk kubus yang megah dengan banyak pilar ini lengang, dijaga oleh beberapa tentara yang hilir mudik kesana kemari. Maklum, karena meski bagi orang-orang Muslim Ataturk adalah musuh Islam, bagi rakyat Turki ia adalah pahlawan besar. Remaja-remaja Turki mengidolakannya lebih daripada Presiden Erdogan. Bahkan katanya, mereka rela mentato lengan mereka dengan wajah Ataturk yang mereka agung-agungkan. Ya, begitulah nasionalisme bangsa Turki yang dahulu dipengaruhi oleh ajaran barat.

Membicarakan sejarah memang panjang. Dahulu, kepemimpinan Islam melemah karena kurangnya implementasi ajaran Alquran oleh pemimpin-pemimpinnya. Oleh karena itulah, kepercayaan masyarakat pun turut menurun. Setidaknya itulah yang kubaca dari Buku Tarikhku dulu. Maka dari itu, kita sebagai Muslim harusnya menunjukkan rahmatan lil alamin dari agama kita. Bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Jika ada yang tak sempurna, ialah orangnya, bukan agamanya. Alquran dan Islam adalah kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu yang harus kita jaga..

Presiden Recep Tayib Erdogan


Aku kembali menyusuri luasnya bangunan megah ini. Di samping kanan bangunan makam, terdapat jalan lurus memanjang menuju ujung bangunan yang menghadap langsung ke kota. Aku menyusuri jalan itu, berfoto di patung singa di sepanjang jalan, menatap burung-burung yang sedang membangun sarang di atas pohon, dan berjingkat melewati keramik batu dua-dua seperti sedang bermain dengklek.

Foto dulu cekrek

Di ujung sana, terdapat dua patung besar tentara laki-laki dan perempuan yang menjaga bangunan berisi foto-foto Ataturk. Oh iya, btw makam dan bangunannya tidak ada bau apapun, kok. Mungkin sudah dibereskan, kali. Kalau kata temanku, mungkin sudah dikasih pewangi soffel. Hahah.

Setelah dari sana dan mengenang sejarah panjang kekhalifahan Islam, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, kembali menuju kota paling spesial, kota bukti keagungan Islam, kota berisi sejuta impian, kota yang dilewati dua benua: Istanbul.

bersambung.

 









Komentar

  1. Luar biasa....smoga ilmu dan pngalamannya bisa bermaanfaat....

    BalasHapus
  2. Superr dan menginspirasi. Ica sempatkan mampir ke smpit BIK Boarding Ca. Ditunggu ya

    BalasHapus
  3. Sugguh sanggat menginspirasi, mba

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer