Jejakkakiku: Istanbul, Kota Dua Benua

Jejakkakiku: Bagian 2.

Setelah dari sana dan mengenang sejarah panjang kekhalifahan Islam, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini, kembali menuju kota paling spesial, kota bukti keagungan Islam, kota berisi sejuta impian, kota yang dilewati dua benua: Istanbul.


Setelah berjam-jam di bus, akhirnya kembali kujumpai Selat Bosphorus yang berkilauan ditimpa sinar matahari menjelang musim semi. Dari jembatan Bosphorus yang panjang, pemandu wisata menunjukkan Masjid terbesar di Turki, Masjid Camlica, jauh di seberang sana. 

Camlica Camii

Masjid putih dengan banyak Menara ini merupakan masjid terbesar dengan area seluas 15.000 meter persegi dan terletak di bukit tertinggi Istanbul. Konstruksi masjid ini dimulai pada 2013 dan ditandai sebagai salah satu megaproyek Presiden Recep Tayyip Erdogan. Kapasitas masjid ini mencapai 60.000 orang, loh.

Di seberang kanan, menjulang tinggi Galata Tower yang merupakan saksi sejarah Konstantinopel. Kelak jika aku kembali ke sini, aku harus mengunjungi Galata Tower dan mengenang kemenangan Al-Fatih di sana. 

Galata Tower

Menara Galata ini juga adalah saksi saat tentara Al-Fatih menarik kapal-kapal mereka dari pantai menuju bukit di Istanbul, melewati rantai-rantai yang menghalangi kapal untuk menyeberangi Teluk Golden Horn. Mengingat kisahnya, selalu berhasil membuatku merinding.

Bus terus berjalan melintasi jalanan Istanbul yang ramai. Kami melewati istana-istana lama yang dahulu dihuni oleh para bangsawan, hingga akhirnya sampai menuju bukti sejarah masa lampau: dinding-dinding benteng Konstantinopel atau Rumeli Hisari.

Dinding batu itu berdiri megah, meski banyak bagiannya yang telah putus atau berlubang. Dinding sepanjang 14 mil atau sekitar 5,5 km ini dahulu melindungi kota Konstantinopel dari serangan, sehingga menjadikannya kota yang sulit ditembus selama beratus-ratus tahun, hingga akhirnya Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkannya. Mungkin juga, lubang-lubang di dinding adalah bekas meriam-meriamnya yang telah meluluhlantakkan pertahanan benteng ini. Aku terus memandangnya dengan takjub, tanpa sadar membayangkan ribuan tahun lalu saat peristiwa bersejarah itu terjadi.

Aku jadi teringat perkataan seorang trainer saat jaman aku SMA dulu:

“Jika ada 1000 Al-Fatih untuk umat ini, maka akan ada 1000 Konstantinopel yang dirubuhkan..”

Wah, perkataan itu membuatku merinding saat ini. Benarlah, karena untuk menjadi seorang seperti Muhammad Al-Fatih, diperlukan tempaan sekuat baja untuk diri yang lemah. Diperlukan keistiqomahan sekuat batu karang, seperti Al-Fatih yang tak pernah barang semalam pun meninggalkan Qiyamul Lail. Diperlukan iman yang luar biasa, untuk membentuk pasukan yang disebut Rasulullah sebagai sebaik-baiknya pasukan.

Aku masih memandangi bangunan benteng dengan takjub, saat tanpa sadar bus kami telah berhenti. Kami akan berjalan kaki menuju lokasi selanjutnya. Pertama, kami diajak makan siang di sebuah restoran Indonesia di sudut kota Istanbul. Kami yang sudah sepuluh hari tidak merasakan nikmatnya nasi, gorengan, dan sambal pun kegirangan. 

Kami tiba di Warung Makan Ibu Deden, salah satu resto Indo yang sudah lama berdiri. Nuansa Indonesia pun menyapa kami. Pelayan-pelayannya bisa berbahasa Indonesia, kokinya bahkan orang Indonesia. Hiasan di dinding berupa lukisan peta Indonesia. Untuk sebentar, aku merasa seperti kembali ke rumah saat pelayan menyajikan sup bening yang khas dengan aromanya. Kami semua makan dengan lahap siang itu.

Peta Indonesia

Menu makan siang hari itu

Dari sana, kami lanjut ke salah satu toko Indonesia juga, bernama Bazar Indonesia, untuk melakukan tes swab PCR untuk kepulangan kami besok malam. Selanjutnya, kami berjalan kaki menuju toko oleh-oleh, dan sorenya diantar kembali menuju hotel.

Esok paginya, kami sudah siap berkelana di kota Istanbul. Pertama, kami mengunjungi kompleks Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmet. Hujan yang mengguyur Istanbul pagi itu tidak menyurutkan langkah kami. Berbekal payung plastik seharga 20 lira, kami berjalan beriringan menyusuri jalanan Istanbul yang ramai.

Berjalan di bawah hujan gerimis

Masjid Biru menyambut kami. Bangunannya yang megah terlihat dari pintu samping. Namun sebelum memasukinya, rombongan kami memutuskan untuk langsung menuju Hagia Sophia karena bisa kembali kesini kapanpun nanti malam. Dan di sinilah, detik-detik berharga itu dimulai.

Kami berbelok ke kanan, untuk berjalan sedikit dan menyaksikan kemegahan bangunan berwarna jingga di seberang sana. Lihatlah, di seberang sana, Hagia Sophia berdiri dengan megahnya.

Hagia Sophia dilatari langit mendung

Aku takjub, bahagia sekali menyaksikan bangunan indah Hagia Sophia sembari ditemani rintik hujan. Aku tertawa gembira, lalu tertegun menyaksikan salah satu temanku ternyata tengah menangis. Ketika ditanya kenapa, ternyata ia sungguh terharu melihat impiannya kini menjadi nyata, berdiri megah di hadapannya. Melihat isaknya, aku jadi ikutan pengen nangis juga. Namun tidak jadi, karena kami serombongan akhirnya berfoto-foto dahulu di depan masjid.

Langkah kaki kami kembali melaju, menuju Hagia Sophia yang dipanggil ‘Ayasofya’ oleh warga Turki. Udara dingin siang ini membekukan tangan, namun tidak membuat tekad kami sedikitpun luntur. Melihat bangunan luarnya lebih jelas, membuatku menggumamkan dzikir berkali-kali.

Dan inilah, Hagia Sophia, bukti sejarah kemegahan Islam, juga keagungan hati seorang Muhammad Al-Fatih. Saat kemenangannya dahulu, ia menunjukkan akhlak seorang muslim sejati. Ketika kemenangan telah dekat dan Sang Sultan hendak melancarkan serangan pamungkasnya, ia berkata kepada para prajuritnya, 

“Jangan sampai ada seorangpun yang melakukan apa yang bertentangan dengan ajaran agama ini. Hindarilah gereja dan tempat-tempat ibadah, jangan sampai ada yang mengganggunya! Biarkanlah para pendeta dan orang-orang lemah tidak ikut berperang!”

Ketika kemenangan telah tiba, Muhammad Al-Fatih pertama kali mendatangi gereja Hagia Sophia. Pendeta dan masyarakat Konstantinopel saat itu sangat ketakutan, takut bahwa mereka akan dipenggal setelah kemenangan Sang Sultan. Namun ternyata, Muhammad A-Fatih berbeda. ia berkata, 

“Keluarlah kalian dan jangan takut. Siapapun boleh memeluk agama mereka. Kalian akan dilindungi dan bebas..”

Mendengar perkataan itu, warga Konstantinopel terperangah akan kemuliaan akhlak Sang Sultan. Bahkan beberapa pendeta langsung memeluk Islam saat itu juga. MasyaAllah, betapa indahnya toleransi dan akhlak luhur sang pemimpin. Aku jatuh cinta dengan kisahnya, jatuh cinta pada bagaimana ia menjalankan prinsip seperti yang diajarkan Rasulullah. Dan aku yakin, Rasulullah pasti sudah tahu saat menyabdakan hadits,

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ

Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.”

Potongan hadits itu pulalah yang tertulis di depan pintu masuk masjid. Aku membacanya dengan pandangan masih takjub, betapa agungnya. Sebelum masuk, pemandu wisata kami kembali menceritakan beberapa hal tentang Hagia Sophia. Menunjukkan tempat wudhu, dan akhirnya kami masuk ke dalam.

Langit-langit masjid

Aku melepas sepatu, menaruhnya di kotak-kotak yang tersedia, lantas melangkah menuju bagian dalam masjid. Aku tidak tahu kalau aku akan merasakan ini, tapi..

Saat pertama menyentuh karpetnya yang tebal, memandang lampu-lampu gantungnya yang berkilauan, juga menatap lafadz Allah dan Rasulullah di depan sana.. air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Allah, betapa agungnya. Betapa indahnya. Betapa akbarnya kuasa-Mu..

Air mataku membasahi pipi, memburamkan lensa kacamataku. Aku terisak pelan, tertahan. Memandangi goresan nama Umar, Abu bakar, Utsman, Ali, juga Hasan dan Husein menghiasi pilar-pilar megahnya. Di depan sana, di atas mimbar utama, terpahat tulisan paling agung: Allah dan Muhammad.

Terbayang di pikiranku, ketika Al-Fatih pertama kali bersujud di tempat ini. Ketika kemenangan itu telah menjadi nyata. Ketika Islam mencapai puncak kejayaan..

Allah, sungguh rindunya.

Lalu teringat juga ketika masjid ini diubah menjadi museum oleh Ataturk berpuluh tahun lalu. Membuatnya menjadi tempat yang terlarang untuk sujud. Allah..

Dan beberapa bulan lalu, atas kuasa Allah, tempat ini kembali menjadi masjid.. Dalam kepemimpinan Presiden Erdogan yang menyatakan, biarkan tempat ini kembali menjadi masjid, sesuai dengan keinginan sang penakluk, Muhammad Al-Fatih. MasyaAllah..

Terimakasih Allah, telah mengizinkanku menginjakkan kaki ke sini saat statusnya telah menjadi rumah-Mu. Terimakasih telah menyampaikan kaki lemahku untuk menjejak di sini, lututku bersujud di sini. Terimakasih, Allah.. aku menangis berkali-kali, sembunyi-sembunyi.

Selesai dengan keharuanku, aku menyeka mata, mengelap kacamata yang buram. Kembali bergabung bersama rombongan dan mendengarkan ucapan pemandu wisata. Aku teringat perkataannya tadi di bis,

“Andaikan agama lain yang menguasai Konstantinopel, pasti gereja ini dahulu sudah dihancurkan habis, dan warganya dibunuh. Namun Sultan Al- Fatih, memilih menjadikannya masjid dan melindungi semua warganya..”

MasyaAllah, satu lagi bukti keagungan akhlaknya yang diakui manusia. Aku memang mengamati, dari semua kota dan bangunan kuno di Turki, kebanyakan mereka sudah dihancurkan. Baik oleh alam, maupun oleh penakluk setelahnya. Namun di Istanbul, semuanya terjaga. Karena sang Khalifah telah menunjukkan akhlak terbaiknya, untuk menjadi rahmat bagi alam semesta..

Ah, lagi-lagi aku mellow. Namun kemellowanku ini berlanjut nanti, saat akhirnya aku shalat berjamaah di sini.

Setelah keluar dari kompleks Ayasofya, kami berjalan beberapa menit untuk menuju Istana Topkapi atau Museum Topkapi. Ya, tempat pedang Al-Fatih dan benda peninggalan Rasulullah disimpan. Kami berjalan, masih dalam selimut gerimis dan dingin yang menyapu kulit. Aku sesekali berhenti untuk mengamati oleh-oleh di pinggir jalan, juga kuncup-kuncup bunga tulip yang mulai mekar, muncul malu-malu menunggu musim semi.

Kuncup tulip di ujung jalan

Sayangnya, ketika kami datang, Topkapi Palace sedang tidak dibuka untuk umum. Kata pemandu kami, sedang digunakan untuk pertemuan Presiden dengan beberapa tamu penting. Me be like, “seriuss di dalem ada Presiden Erdogan?? Demi apahh?? Sedekat iniii sama beliau?” Tapi tak tahu jugalah, yang pasti kami diarahkan ke tempat lain.

Hagia Sophia dari kompleks Topkapi Museum

Kami lalu berjalan lagi menuju Grand Bazaar. Kata Wikipedia, Grand Bazaar Istanbul (Kapalicarsi) adalah salah satu pasar tertutup yang terbesar dan tertua di dunia. Dahulu, pembangunan pasar ini dipelopori oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1455. Kami mampir dahulu ke toko makanan, mencoba baklava yang manisnya minta ampun, juga diberikan teh pomegranate dan saffron gratis. Lumayan lah, soalnya kalau beli mahal wkwk.

Blurry Grand Bazaar

Di grand bazar, kami berkeliling melihat-lihat. Temanku membeli eskrim Turki, ada pula yang memborong belanjaan di sana. Ada yang lucu ketika aku mengambil uang dollar di salah satu mesin ATM. Kartu ATM-ku tidak keluar!!! Waduh, masa ATM ketelen di negara orang? Kan lucuuk! Akhirnya aku pasrah deh, meski ditawari untuk diantarkan ke bank oleh salah satu bapak baik hati yang kami temui di sana. Aku akhirnya melanjutkan perjalanan lagi.

Menjelang siang, kami kembali ke Toko Bazar Indonesia untuk makan siang sekaligus mengambil hasil tes SWAB PCR. Setelah bertolak dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Bosphorus Boat Cruise. Siang ini, kami akan naik kapal ferry melintasi Selat Bosphorus dan memandangi indahnya Istanbul dari atas kapal.

Istanbul terlihat dari kapal

Cuaca masih tak juga bersahabat, hujan gerimis dan angin kencang masih mengiringi perjalanan kami. Angin laut yang kencang dan dingin membekukan tulang, namun tidak menyurutkan semangatku untuk berpuas memandangi hamparan daratan Istanbul dari sini. Air laut yang biru jernih beriak dijatuhi guyuran hujan. Burung-burung camar meliuk-liuk di atas kapal. Satu dua mendekat, lainnya kembali sibuk mencari makan.

Dari dek kapal ferry yang terbuka, kupandangi jembatan Bosphorus yang megah menjembatani dua benua. Orang-orang sibuk memancing ikan di pinggirannya. 

Aku ft. jembatan Bosphorus

Dan tak lupa, kupandangi Galata Tower yang menjulang kokoh di tepi sana. Kalau melihatnya lagi, aku lagi-lagi teringat pasukan Al-Fatih ketika menyeberangi selat ini. Aku masih tidak percaya, kini aku berdiri di tempat yang sama yang mungkin pernah diinjak oleh Sang Sultan. Aku melintasi lautan yang sama yang mungkin pernah dilewati kapal-kapal sang penakluk. Dan aku berada di negeri yang sama yang diimpikan Abu Ayyub al-Anshari, salah satu sahabat rasul yang wafat di tengah jihadnya merebut Konstantinopel..

Aku ft. Galata Tower dari atas kapal

Turun dari kapal, gerimis sudah mulai berhenti. Rombongan kami kembali menuju hotel. Kami menurunkan koper-koper dari bus, yang akhirnya berpisah setelah semingguan ini mengantar kami kemanapun. Dengan hati haru, kami ucapkan salam perpisahan kepada Ali si pemandu wisata dan Mr. Osman sang supir. Lalu kami membawa koper-koper kami berjalan menanjak, menuju hotel yang akan kami tempati hingga kami pulang besok. Rose Boutique Hotel, yaitu salah satu hotel dengan warna violet yang terletak di ujung jalan.

Sorenya, kami masuk ke kamar masing-masing. Aku tidak ingin menyiakan waktu. Oleh karena itu sorenya, aku dan beberapa teman keluar dari hotel untuk kembali berkelana di Kota Istanbul. Awalnya, aku dan dua temanku berniat untuk pergi ke Pasar Eminonu, salah satu pasar yang dikenal murah untuk membeli oleh-oleh. Kami sudah berjalan jauh mengikuti google maps, namun ujungnya malah sampai ke Grand Bazar lagi. Akhirnya karena sudah sore dan menjelang tutup, kami berbelanja di Grand Bazar saja.

Setelah tersesat dan berjalan lagi, kami pulang setelah tidak jadi shalat di Ayasofya karena takut kemalaman, lalu menaruh barang belanjaan di hotel. Namun ternyata, rombongan kami yang lain sedang makan di salah satu restoran kebab. Hadeh.. akhirnya kami berjalan lagi menuju ke sana. Memang sepertinya Allah menyuruh aku shalat di Ayasofya deh, hihi.

Setelah makan, aku dan beberapa rombongan menyempatkan untuk shalat maghrib dan sekalian menunggu waktu isya di Ayasofya. Rasanya ketika kembali ke sini tuh.. adem banget pokoknya. Apalagi, kalau malam hari Ayasofya lebih sepi dari turis, sehingga vibes masjidnya lebih terasa.

Setelah shalat maghrib, aku duduk-duduk di dalam masjid sembari menunggu waktu isya. Kusempatkan bermain-main dengan salah satu kucing di sana. Ketika adzan isya berkumandang, aku mendengarkan dengan hati penuh keharuan. Aku lalu berpindah untuk shalat di area kotak tempat jamaah perempuan shalat.


Ketika takbir pertama lalu bacaan imam terdengar, rasa haru ini tidak bisa kubendung lagi.

Alhamdulillahi rabbil alamin..” begitu ayat pertama ayat al-fatihah terdengar, hatiku diliputi rasa haru.

Arrahmanirrahim..” Ibu di sebelahku tergugu, terisak mendengar bacaan imam. Aku yang mendengarnya langsung ikut menangis. Air mataku jatuh perlahan membasahi pipi.

Allah.. ternyata begini rasanya shalat di masjid yang bersejarah ini. Bukti keagungan Islam dan sejarahnya yang panjang.

Hingga sujud terakhir, hatiku masih saja merasakan perasaan yang tak bisa kudefinisikan.


Seusai shalat, kami berniat untuk langsung pulang karena hawa dingin Istanbul akan sangat menusuk ketika malam. Namun parahnya, kami salah jalan. Seharusnya setelah keluar pintu, kami menuju sisi kanan. Namun kami malah sok-sokan hafal jalan dan entah kenapa memilih sisi kiri. 

Jalanan sempit kami susuri, sampai akhirnya baru sadar kalau kami salah jalan. Ketika baru sadar, kami sudah tersesat. Percuma juga mengandalkan google maps, karena malah tersesat makin jauuh.

Hari makin malam, udara juga makin dingin. Kurapatkan jaketku, kupakai juga sarung tanganku yang kubeli seharga 15 lira. Lumayan untuk menambah kehangatan. Kami berjalan makin jauh tak tentu arah, sampai akhirnya aku dipanggil oleh seorang laki-laki yang melihat kami sepertinya tersesat. Dalam bahasa inggris, ia menawarkan bantuan. Ia lalu memanggil temannya yang warga lokal, lalu menunjukkan arah hotel kami. 

Akhirnya setelah diberi tau, kami berhasil kembali ke jalanan yang tepat. Hahaha. Ada-ada saja pokoknya, nyasar di Istanbul malam-malam. Ketika kembali ke hotel, badanku sudah serasa remuk dan ingin tidur yang lama. Rencanaku untuk bangun pagi dan shalat subuh di Ayasofya terancam gagal, nih.

Untungnya, pagi hari aku terbangun dalam kondisi belum packing barang. Sekitar setengah jam sebelum adzan subuh berkumandang, teman sekamarku kembali membangunkanku. Aku yang awalnya hampir tidak jadi ikut ke Ayasofya langsung mikir ulang. Kapan lagi coba, shalat subuh di sana? Akhirnya meski sangat lelah dan kedinginan, aku bersama beberapa orang pergi keluar untuk shalat subuh di Ayasofya.

Kali ini, kami tidak nyasar lagi karena sudah hafal jalan. Hahaha. Suasana subuh hari di Istanbul sangat tenang, dingin menusuk tulang. Hampir tidak ada orang yang kutemui di jalan. 

Subuh walks

Ayasofya subuh hari, ft. jari tanganku yang kedinginan. Itu niatnya mau bikin love kok malah jadi kayak minta duit?

Sampai di kompleks Ayasofya, suara adzan bersahut-sahutan dari Ayasofya dan Masjid Sultan Ahmet di seberang. Aku merinding, mendengarkan lafadz,

“Asshalatu khoriumminannaum..” Shalat lebih baik daripada tidur..

Ah, hatiku tersentil.

Suasana subuh di Ayasofya sangat berbeda. Tenang, sejuk. Kami menunggu iqamah berkumandang dengan melaksanakan shalat fajr. Aku lalu mengamati, ternyata jamaah subuh di Ayasofya jumlahnya lebih banyak daripada jamaah maghrib dan isya. Meskipun sepertinya mayoritas terdiri dari orang tua atau turis.

Kemudian, ada yang istimewa. Sebelum iqamah, sembari menunggu jamaah, imam di depan melantunkan bacaan Quran Surah Al-Fath.

 اِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحًا مُّبِيۡنً

Innaa fatahnaa laka Fatham Mubiinaa. Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.

لِّيَـغۡفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِكَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِيۡمًا

Liyaghfira lakal laahu maa taqaddama min zambika wa maa ta akhkhara wa yutimma ni'matahuu 'alaika wa yahdiyaka siraatam mustaqiima. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus.

وَّ يَنۡصُرَكَ اللّٰهُ نَصۡرًا عَزِيۡزًا

Wa yansurakal laahu nasran 'aziizaa. dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

MasyaAllah.. mendengarkan lantunan surah tersebut, di dalam bangunan sejarah bukti nyata dari surah tersebut, membuatku lagi-lagi merasa haru. Shalat subuh di Ayasofya sungguh memberi warna tersendiri untuk perjalanan ini.

Jamaah shalat subuh di Ayasofya


Selepas shalat, juga ada kultum singkat dari imam yang campuran antara bahasa inggris dan Turki, namun kebanyakan berbahasa Turki. Satu kalimat yang paling aku ingat adalah, “Brothers and sisters..” Hahahah itu doang.

Keluar dari sana, ternyata langit sudah mulai terang. Kami membeli roti simit, roti khas Turki untuk sarapan pagi. Kami lalu kembali ke hotel untuk mandi dan beres-beres. Lalu siangnya, siap jalan-jalan lagi!

Siang harinya, aku memutuskan untuk kembali menuju tempat yang kemarin tidak jadi kami datangi, yakni Eminonu. Aku dan beberapa rombongan pergi ke sana menggunakan kereta trem. Untuk itu, kami membuat kartu Istanbul Kart agar bisa naik. Untuk jasa pembuatan kartu yaitu 20 lira, dan juga mengisi saldo sebanya 10 lira. Setelah itu, kami menaiki trem selama sekitar 15 menit hingga sampai di Eminonu.

Eminonu Sahil atau pasar Eminonu mirip-mirip Grand Bazar, hanya saja lebih kecil dan tradisional. Kami senang sekali menjelajah di sana, melihat-lihat barang jualan yang unik-unik dan pastinya murah daripada tempat lain. Aku dan temanku bahkan membeli baju untuk saudara kami di rumah, karena ngikut ibu-ibu rombongan kami yang ingin mencari baju abaya.

Setelah puas melihat-lihat, kami hendak pulang kembali dan mencari pintu keluar. Namun lagi-lagi, kami nyasar hehe. Akhirnya setelah beberapa blok memutar, kami menemukan jalan keluar dan melewati sepetak jalan penuh berisi burung merpati yang memang kandangnya berada di sana. Beberapa turis memberi makan burung-burung dan berfoto. Setelah itu, kami berpencar. Aku dan temanku si bontot Zaki kembali ke Ayasofya, sementara ibu yang lain hendak ke daerah Yusuf Pasha karena hendak bertemu dengan seseorang.

Kami kembali menaiki trem dan melewati kompleks Istanbul Universitesi, Taman Gulhane, hingga sampai ke stasiun trem dekat Ayasofya. Temanku Dila yang menyuruh kami cepat kembali, karena katanya dia sendirian di hotel. Akhirnya kami kembali menuju hotel dan menaruh barang belanjaan.

Setelah itu, aku kembali melanjutkan jalan-jalan bersama beberapa orang teman. Kini ditambah satu orang teman dari Dila yang merupakan mahasiswa di sini, jadi ia membawa kami berjalan-jalan sembari menjelaskan sejarah-sejarah bak pemandu wisata. Harusnya kami bayar nih, tapi jadinya gratis haha.

Jalanan Istanbul

Kemudian kami shalat dzuhur di Ayasofya, lalu melanjutkan dengan makan siang di salah satu restoran Malaysia di sekitaran Ayasofya. Memasuki restoran, nuansa Melayu menyambut kami. Menu di sana pun bermacam-macam, mulai dari nasi goreng, nasi lemak, hingga mie bandung pun ada. Kami menghabiskan waktu di sana dengan mengobrol sebentar. Setelah itu kami berpencar lagi. Teman Dila pamit pulang, lalu aku dan tiga orang lain memutuskan hendak ke Topkapi Palace.


Topkapi Palace

Kompleks Topkapi Palace

Kami berjalan sebentar untuk sampai di Topkapi Palace. Masuk ke gerbangnya gratis, tidak perlu membayar. Hanya harus diperiksa tasnya. Namun untuk masuk ke dalam museum, harus bayar. Lumayan mahal pulak, 100 lira. Akhirnya karena kami sudah bokek dan kehabisan uang lira, kami berpuas diri dengan berjalan-jalan di taman Topkapi Palace. Luarnya saja sudah indah, apalagi dalamnya ya. Pokoknya, aku harus kesini lagi dan wajib masuk ke sini! Tekadku dalam hati. Aamiin.

Papan penunjuk jalan

Foto duluu

Aku berjalan-jalan sembari mengikuti rapat musker BEM, numpang tetring ke HP temanku hehe. Sorenya, kami sudah harus kembali ke bandara untuk flight nanti malam. Jadilah di depan kompleks Ayasofya ketika hendak pulang, kami menyempatkan untuk mampir lagi. Aku duduk-duduk di taman antara Ayasofya dan Masjid Sultan Ahmet, sembari mendengarkan musker BEM nun jauh di Indonesia. Di sini masih terang benderang, sementara di Indonesia sudah malam.

Kami lalu mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya kepada Ayasofya, Blue Mosque, burung-burung gagak dan camar yang berterbangan di sekitar, juga keramaian jalanan Istanbul untuk terakhir kalinya. Kupandangi lekat bangunan jingga penuh sejarah itu, untuk terakhir kalinya.

The Great Hagia Sophia

Our Beautiful Blue Mosque/ Sultan Ahmet Camii

Ayasofya, aku pasti akan kesini lagi. Akan sujud di dalammu lagi. Akan melantunkan bacaan Quranku disana.

Masjid Sultan Ahmet, aku juga pasti akan kembali dan bersujud di lantaimu yang megah itu, suatu saat nanti.

Dan Istanbul, aku pasti akan kembali mengunjungimu lagi, menjejakkan kaki di tanahmu. Entah itu musim panas, bersalju, bersemi, ataupun cerah, aku pasti akan kembali. InsyaAllah, suatu saat nanti. Mungkin bersama orang lain, orang baru yang menggenggam tanganku, aku tidak tahu. Tapi aku yakin, Allah mendengar doaku.

Dan kamupun, yang membaca ini, yakinlah bahwa Allah selalu mendengar doamu. Doa-doa saat selesai shalat, doa-doa di tengah perjalanan, doa-doa di hari hujan ataupun cerah, semuanya terdengar hingga ke langit. Jangan pernah ragu untuk bermimpi. Gantungkan mimpi itu kepada harapan dan doa kepada-Nya, maka Allah akan bukakan jalannya.

Jangan lupa pula untuk berusaha. Setelah berdoa, tinggallah menggerakkan kaki untuk menjemput mimpi. Lelahmu hari ini, akan jadi manis di hari kemudian. Karena untuk mencapai hal yang belum pernah kita capai, harus melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan.

Jangan meratapi diri. Waktu hanya akan terbuang sia untuk itu. Ada banyak mimpi yang bisa dipanen di langit, ada banyak jalan yang Allah sediakan di bumi. Gunakan waktu berharga kita untuk memilih mimpi dan jalan-jalan itu.

Mungkin salah satunya, jalanan kota Istanbul yang menunggumu.

Selamat tinggal, sampai jupa lagi lain waktu, Istanbul.

Dan begitulah, jejak kakiku tertapak di sana. Di antara hamparan kuncup tulip dan salju yang mulai mencair menunggu musim semi, di sela-sela angin dingin bulan Maret yang menghembuskan melodi, dibawa oleh burung camar ke samudera nun jauh dari sini, di negeri sejuta mimpi.

 

 

 










Komentar

  1. Its really heart touching MaSha Allah! hopefully it will be my turn to visit one day!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer