Nisa's Journal: Jangan Pernah Berhenti Berdakwah Meski Hanya Mengajar TPQ
Jumat malam, di sudut rumah.
Hari ini mata hatiku terbuka, mungkin.
Entah déjà vu atau apa, mungkin juga teringat masa lalu.
Jadi, begini..
Sore tadi aku bersama teman-temanku mengajar ngaji di salah satu masjid kecil di pinggiran kota kami, letaknya terpencil meski sebetulnya dekat dari sekolah.
Disana hanya ada beberapa tenaga pengajar, yang tidak setiap hari bisa mengajar ngaji anak-anak di sana, karena ibu-ibu itu pun punya anak masing-masing.
Namanya Bu Kusnan, ibu RT di daerah tersebut. Bu Kusnan bersama satu ibu lagi (aku lupa namanya, maaf ya bu) mengajar ngaji di sana setiap sore sehabis ashar sampai menjelang maghrib. Biasanya ada pengajar lain, tapi sering berhalangan hadir.
Masjid yang kami datangi itu pernah jadi bagian dari acara tahunan sekolah kami, Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Dulu sekolah kami pernah mengadakan semacam bakti sosial di daerah sana, dan masjid itu menjadi pusatnya.
Sekian lama tidak mengunjungi masjid kecil itu, kami tidak lagi mendapat kabar dari sana. Lalu kemudian, kemarin sekolahku mengadakan acara tahunan yaitu Edufair. Nah, lalu kami butuh meminjam beduk untuk membuka acara Edufair.
Dan akhirnya, voila.. kami (osis dll) pun meminjam beduk di masjid itu. Dan saat mengembalikan beduknya, Pak Kusnan (pak RT, suaminya Bu Kusnan) bercerita tentang keadaan pengajaran mengaji di sana. Kadang jumlah murid bisa mencapai 80 orang (wow bgt, ini banyak sekali), dan tenaga pengajarnya tidak mencukupi. Jadi, Pak Kusnan meminta tolong pada pihak sekolahku terkait masalah ini.
Dan, tringg.
Sampailah aku di masjid ini, sore hari jumat dengan seragam yang masih melekat.
Aku dan beberapa teman perempuanku disambut dengan ramah oleh anak-anak yang mengaji. Beberapa diantaranya aku ingat wajahnya karena pernah bertemu, dulu saat ada bazaar yang sekolahku adakan di sana.
Aku bertemu dengan Pak RT, lalu kami masuk ke masjid kecil itu.
Papan nama yang tertera di atas pintu bertuliskan, “Masjid Al-Ikhlas.”
Wow. Kebetulan, itu juga nama mushola di rumah mbahku. Yang dulu aku menghabiskan masa kecilku di sana. Saat ibu dan bapakku memperlakukanku seperti anak biasa yang diajar ngaji, yang sering bikin aku sebel sendiri. Yang mana yang anak sendiri, yang mana yang anak tetangga. Begitu pemikiranku.
Lalu aku dan teman-temanku masuk ke dalam masjid dan bertemu dengan anak-anak di sana. Lucu-lucu deh. Biasaan banget, orang baperan liat yang lucu dikit, ya langsung kepengen dibawa pulang. *abaikan
Kami berkenalan dengan mereka. Ada Nining, Rafi, Wahyu, Danu, Fitra, Ni’mah, Rama, dan yang paling aku ingat yaitu Ong. Anak laki-laki itu lucu dan petakilan, biasa. Masih banyak lagi, tapi aku lupa namanya sebagian besar:D (fyi; Rama mirip banget sama adik laki-lakiku, Dian)
Tak lama, Bu Kusnan dan ibu yang satunya lagi datang. Kami ngobrol, ngobrolin apa aja lupa. Intinya, setiap hari Jumat itu jadwalnya latihan sholat dan hafalan.
Kayaknya aku cerewet banget apa gimana, ngga tau, pokoknya kebanyakan anak paling hafal dengan namaku. Mungkin iya sih aku cerewet. Ngga usah ditanya.
Menurutku, Bu Kus keren baangeett. Apa akunya yang kudet ngga pernah ikut tpq, ngga tau. Di desaku, tidak ada tpq-tpq an. Hanya di langgar,ngaji bersama. Sudah.
Di tpq Mushola Al-Ikhlas itu, sistem pendidikannya sudah tertata, menurutku. Ada hafalan juz ‘amma, hafalan dan praktek sholat, tahsin biasa, dan lain-lain yang sudah terjadwal. Hanya Bu Kus dan satu ibu lagi, mengajar anak sebegitu banyak itu keren.

Dulu, ibuku membuat rumahku menjadi tempat ngaji anak-anak di desaku. Jumlahnya sampai puluhan, banyak sekali. Ngajinya setiap sore, dan aku cuma bisa membantu ibu ngajar ngaji saat hari Sabtu dan Minggu, karena dulu aku tinggal di asrama saat SMP.
Itupun aku sampe pusing, banyak yang lari-lari, bikin rumah berantakan. Lucu sih iya, tapi nyebelin. Dan mereka adalah teman mainku, jadi rasanya tidak terlalu menyenangkan mengajar ngaji teman sendiri. Sampai beberapa waktu kemudian, ngaji di rumahku berhenti, aku juga lupa kenapa.
Dan sekarang aku berkaca pada Bu Kus, juga jadi teringat ibu. Banyak anak yang Bu Kus ajar, semuanya mengambil banyak waktu. Padahal mereka juga bukan anaknya Bu Kus. Bu Kus juga bercerita, dulu di sana ada tragedi. Ada seorang anak yang sudah selesai ngaji, lalu dia main-main, lari-larian di halaman mushola dengan temannya. Tiba-tiba… gedebuk, jatuh.
Bukan jatuh biasa, sodara-sodara. Tapi tangannya patah, geser ke belakang. Sontak satu RT riuh, dan setelah kejadian itu si anak tersebut tidak pernah datang mengaji lagi.
Aku baru sadar, betapa benar-benar besar perjuangan Bu Kus dan pengajar lainnya. Pasti banyak pengorbanan lain yang tidak orang-orang lihat, hanya untuk mengajar ngaji.
Ibuku juga, aku tau sedikitlah gambarannya. Saat ibu capek baru pulang mengajar (ibuku adalah seorang guru), ibu harus disibukkan mengajar ngaji lagi di sore hari. Setelah ngaji selesai, harus beres-beres rumah yang berantakan karena anak-anak. Dan setelah sekian lama waktu berjalan, ada perasaan sedih saat anak-anak ngaji sudah bertambah dewasa. Satu demi satu tidak akan datang lagi untuk mengaji. Pikiran mereka sudah tercampuri dengan dunia barat, dunia modern, smartphone, dan lain lain, lalu jadi malas ngaji. Akhirnya, sepi deh ngajinya.
Aku juga sedikit miris dengan desaku sekarang. Hampir setiap hari, mushola sepi dari anak-anak. Paling hanya satu-dua, itupun jika disuruh orangtua. Makanya Bapak selalu membiasakan adik laki-lakiku sholat berjamaah 5 waktu di mushola. Meski kadang subuhnya terlewat, haha.
Aku jadi bertanya pada diri sendiri. Aku, pergi sekolah jauh disini, apakah benar-benar menuntut ilmu dan berusaha bermanfaat untuk orang lain? Bukan untuk lari dan kabur dari desaku, yang setiap hari bertambah miris?
Iyakah?
Aku takut kepergianku ini hanya untu melarikan diri. Mungkin aku merasa sudah sia-sia berdakwah di sana, sudah capek.
Ramadhan depan pun, ada satu hal yang aku takutkan: anak-anak ngaji di desaku tidak datang ke langgar lagi seperti Ramadhan-Ramadhan lalu. Lalu menu buka puasa yang ibuku buat untuk mereka, tidak tersentuh. Sia-sia dan menyedihkan.
Apa ketakutanku ini benar?
Tapi kemudian aku melihat Bu Kus, lalu tersadar akan satu hal.
Bahwa dakwah itu bukan tentang seberapa banyak kita menuai hasil, tapi sekuat apa kita berusaha.
Bukankah Allah tidak menilai usaha seseorang dari keberhasilannya? Tapi dari kesungguhan dan keikhlasannya.
Maka tidak usah bersedih, jika apa yang kau dakwahkan tidak sesuai yang kau harapkan. Toh, hal sekecil apapun pasti ada pengaruhnya untuk dakwahmu, juga untuk pahala akhiratmu.
Life is simple, asal kamu punya Allah dalam hatimu.
Aduhduh, jadi kangen ibu. Kangen mushola depan rumah yang semakin sepi saja setiap hari. Tapi semoga hari besok datang membawa harapan, deh. Aku juga harus meramaikan mushola dengan sholat jamaah disana. Meski perempuan bagusnya sholat di rumah, ibu selalu bilang kalau aku harus sholat di mushola depan rumah, karena tinggal nyebrang jalan pun udah nyampe. Jadi, insyaAllah tidak ada fitnah. (EKSPEKTASI, realitanya…. Wkwkwk kalo pulang kampung ya hobinya mantengin tivi, tapi harus dikurang-kurangi lah)
Sebetulnya, mungkin ibu dan bapak juga punya ketakutan yang sama denganku. Cuma tidak ditampakkan, dan ketakutan itu tidak membuat ibu berhenti. Meski sekarang ibu benar-benar sudah tidak mengajar ngaji di mushola, ibu masih mengajar ngaji adikku dan segelintir teman-temannya di rumah, selepas maghrib. Itupun kalau mereka mau datang. Soalnya kalau aku pulang, suka males ketemu teman-temannya Dian, hahaha. Nanti ujung-ujungnya aku sewot ke mereka. Mberantakin rumah, mbrisikin, caper lagi, duh bocah. Wkwkwk
Aku ingin maju terus, setidaknya berusaha maju terus. Meskipun langkahku kecil, pendek-pendek, yang penting maju aja.
Jangan pernah berhenti, apalagi mundur.
Jadikan Danu, Rafi, Fitra, I’I, Rama, dan anak-anak TPQ sebagai penyemangatmu Nis!
Ayo maju!!!
Jangan kalah oleh ekspektasi yang tidak terealitakan.
(Duh bahasaku keren bgt ya)
Sampai jumpa di postku berikutnya, ya, insyaAllah. Doain semoga nisa rajin nulis ya.
Semoga tulisan ini bermanfaat <3 aamiin.
Ps:
*dibuat saat aku pulang dari mengajar tpq pertama kali, Jumat, (kayanya tanggal 24) Februari 2017, dan diselesaikan malam ini.
*tulisan ini dibuat semata untuk berbagi pikiran dan penyemangat diri sendiri, bukan bermaksud apapun.
Hari ini mata hatiku terbuka, mungkin.
Entah déjà vu atau apa, mungkin juga teringat masa lalu.
Jadi, begini..
Sore tadi aku bersama teman-temanku mengajar ngaji di salah satu masjid kecil di pinggiran kota kami, letaknya terpencil meski sebetulnya dekat dari sekolah.
Disana hanya ada beberapa tenaga pengajar, yang tidak setiap hari bisa mengajar ngaji anak-anak di sana, karena ibu-ibu itu pun punya anak masing-masing.
Namanya Bu Kusnan, ibu RT di daerah tersebut. Bu Kusnan bersama satu ibu lagi (aku lupa namanya, maaf ya bu) mengajar ngaji di sana setiap sore sehabis ashar sampai menjelang maghrib. Biasanya ada pengajar lain, tapi sering berhalangan hadir.
Masjid yang kami datangi itu pernah jadi bagian dari acara tahunan sekolah kami, Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Dulu sekolah kami pernah mengadakan semacam bakti sosial di daerah sana, dan masjid itu menjadi pusatnya.
Sekian lama tidak mengunjungi masjid kecil itu, kami tidak lagi mendapat kabar dari sana. Lalu kemudian, kemarin sekolahku mengadakan acara tahunan yaitu Edufair. Nah, lalu kami butuh meminjam beduk untuk membuka acara Edufair.
Dan akhirnya, voila.. kami (osis dll) pun meminjam beduk di masjid itu. Dan saat mengembalikan beduknya, Pak Kusnan (pak RT, suaminya Bu Kusnan) bercerita tentang keadaan pengajaran mengaji di sana. Kadang jumlah murid bisa mencapai 80 orang (wow bgt, ini banyak sekali), dan tenaga pengajarnya tidak mencukupi. Jadi, Pak Kusnan meminta tolong pada pihak sekolahku terkait masalah ini.
Dan, tringg.
Sampailah aku di masjid ini, sore hari jumat dengan seragam yang masih melekat.
Aku dan beberapa teman perempuanku disambut dengan ramah oleh anak-anak yang mengaji. Beberapa diantaranya aku ingat wajahnya karena pernah bertemu, dulu saat ada bazaar yang sekolahku adakan di sana.
Aku bertemu dengan Pak RT, lalu kami masuk ke masjid kecil itu.
Papan nama yang tertera di atas pintu bertuliskan, “Masjid Al-Ikhlas.”
Wow. Kebetulan, itu juga nama mushola di rumah mbahku. Yang dulu aku menghabiskan masa kecilku di sana. Saat ibu dan bapakku memperlakukanku seperti anak biasa yang diajar ngaji, yang sering bikin aku sebel sendiri. Yang mana yang anak sendiri, yang mana yang anak tetangga. Begitu pemikiranku.
Lalu aku dan teman-temanku masuk ke dalam masjid dan bertemu dengan anak-anak di sana. Lucu-lucu deh. Biasaan banget, orang baperan liat yang lucu dikit, ya langsung kepengen dibawa pulang. *abaikan
Kami berkenalan dengan mereka. Ada Nining, Rafi, Wahyu, Danu, Fitra, Ni’mah, Rama, dan yang paling aku ingat yaitu Ong. Anak laki-laki itu lucu dan petakilan, biasa. Masih banyak lagi, tapi aku lupa namanya sebagian besar:D (fyi; Rama mirip banget sama adik laki-lakiku, Dian)
Tak lama, Bu Kusnan dan ibu yang satunya lagi datang. Kami ngobrol, ngobrolin apa aja lupa. Intinya, setiap hari Jumat itu jadwalnya latihan sholat dan hafalan.
Kayaknya aku cerewet banget apa gimana, ngga tau, pokoknya kebanyakan anak paling hafal dengan namaku. Mungkin iya sih aku cerewet. Ngga usah ditanya.
Menurutku, Bu Kus keren baangeett. Apa akunya yang kudet ngga pernah ikut tpq, ngga tau. Di desaku, tidak ada tpq-tpq an. Hanya di langgar,ngaji bersama. Sudah.
Di tpq Mushola Al-Ikhlas itu, sistem pendidikannya sudah tertata, menurutku. Ada hafalan juz ‘amma, hafalan dan praktek sholat, tahsin biasa, dan lain-lain yang sudah terjadwal. Hanya Bu Kus dan satu ibu lagi, mengajar anak sebegitu banyak itu keren.

Dulu, ibuku membuat rumahku menjadi tempat ngaji anak-anak di desaku. Jumlahnya sampai puluhan, banyak sekali. Ngajinya setiap sore, dan aku cuma bisa membantu ibu ngajar ngaji saat hari Sabtu dan Minggu, karena dulu aku tinggal di asrama saat SMP.
Itupun aku sampe pusing, banyak yang lari-lari, bikin rumah berantakan. Lucu sih iya, tapi nyebelin. Dan mereka adalah teman mainku, jadi rasanya tidak terlalu menyenangkan mengajar ngaji teman sendiri. Sampai beberapa waktu kemudian, ngaji di rumahku berhenti, aku juga lupa kenapa.
Dan sekarang aku berkaca pada Bu Kus, juga jadi teringat ibu. Banyak anak yang Bu Kus ajar, semuanya mengambil banyak waktu. Padahal mereka juga bukan anaknya Bu Kus. Bu Kus juga bercerita, dulu di sana ada tragedi. Ada seorang anak yang sudah selesai ngaji, lalu dia main-main, lari-larian di halaman mushola dengan temannya. Tiba-tiba… gedebuk, jatuh.
Bukan jatuh biasa, sodara-sodara. Tapi tangannya patah, geser ke belakang. Sontak satu RT riuh, dan setelah kejadian itu si anak tersebut tidak pernah datang mengaji lagi.
Aku baru sadar, betapa benar-benar besar perjuangan Bu Kus dan pengajar lainnya. Pasti banyak pengorbanan lain yang tidak orang-orang lihat, hanya untuk mengajar ngaji.
Ibuku juga, aku tau sedikitlah gambarannya. Saat ibu capek baru pulang mengajar (ibuku adalah seorang guru), ibu harus disibukkan mengajar ngaji lagi di sore hari. Setelah ngaji selesai, harus beres-beres rumah yang berantakan karena anak-anak. Dan setelah sekian lama waktu berjalan, ada perasaan sedih saat anak-anak ngaji sudah bertambah dewasa. Satu demi satu tidak akan datang lagi untuk mengaji. Pikiran mereka sudah tercampuri dengan dunia barat, dunia modern, smartphone, dan lain lain, lalu jadi malas ngaji. Akhirnya, sepi deh ngajinya.
Aku juga sedikit miris dengan desaku sekarang. Hampir setiap hari, mushola sepi dari anak-anak. Paling hanya satu-dua, itupun jika disuruh orangtua. Makanya Bapak selalu membiasakan adik laki-lakiku sholat berjamaah 5 waktu di mushola. Meski kadang subuhnya terlewat, haha.
Aku jadi bertanya pada diri sendiri. Aku, pergi sekolah jauh disini, apakah benar-benar menuntut ilmu dan berusaha bermanfaat untuk orang lain? Bukan untuk lari dan kabur dari desaku, yang setiap hari bertambah miris?
Iyakah?
Aku takut kepergianku ini hanya untu melarikan diri. Mungkin aku merasa sudah sia-sia berdakwah di sana, sudah capek.
Ramadhan depan pun, ada satu hal yang aku takutkan: anak-anak ngaji di desaku tidak datang ke langgar lagi seperti Ramadhan-Ramadhan lalu. Lalu menu buka puasa yang ibuku buat untuk mereka, tidak tersentuh. Sia-sia dan menyedihkan.
Apa ketakutanku ini benar?
Tapi kemudian aku melihat Bu Kus, lalu tersadar akan satu hal.
Bahwa dakwah itu bukan tentang seberapa banyak kita menuai hasil, tapi sekuat apa kita berusaha.
Bukankah Allah tidak menilai usaha seseorang dari keberhasilannya? Tapi dari kesungguhan dan keikhlasannya.
Maka tidak usah bersedih, jika apa yang kau dakwahkan tidak sesuai yang kau harapkan. Toh, hal sekecil apapun pasti ada pengaruhnya untuk dakwahmu, juga untuk pahala akhiratmu.
Life is simple, asal kamu punya Allah dalam hatimu.
Aduhduh, jadi kangen ibu. Kangen mushola depan rumah yang semakin sepi saja setiap hari. Tapi semoga hari besok datang membawa harapan, deh. Aku juga harus meramaikan mushola dengan sholat jamaah disana. Meski perempuan bagusnya sholat di rumah, ibu selalu bilang kalau aku harus sholat di mushola depan rumah, karena tinggal nyebrang jalan pun udah nyampe. Jadi, insyaAllah tidak ada fitnah. (EKSPEKTASI, realitanya…. Wkwkwk kalo pulang kampung ya hobinya mantengin tivi, tapi harus dikurang-kurangi lah)
Sebetulnya, mungkin ibu dan bapak juga punya ketakutan yang sama denganku. Cuma tidak ditampakkan, dan ketakutan itu tidak membuat ibu berhenti. Meski sekarang ibu benar-benar sudah tidak mengajar ngaji di mushola, ibu masih mengajar ngaji adikku dan segelintir teman-temannya di rumah, selepas maghrib. Itupun kalau mereka mau datang. Soalnya kalau aku pulang, suka males ketemu teman-temannya Dian, hahaha. Nanti ujung-ujungnya aku sewot ke mereka. Mberantakin rumah, mbrisikin, caper lagi, duh bocah. Wkwkwk
Aku ingin maju terus, setidaknya berusaha maju terus. Meskipun langkahku kecil, pendek-pendek, yang penting maju aja.
Jangan pernah berhenti, apalagi mundur.
Jadikan Danu, Rafi, Fitra, I’I, Rama, dan anak-anak TPQ sebagai penyemangatmu Nis!
Ayo maju!!!
Jangan kalah oleh ekspektasi yang tidak terealitakan.
(Duh bahasaku keren bgt ya)
Sampai jumpa di postku berikutnya, ya, insyaAllah. Doain semoga nisa rajin nulis ya.
Semoga tulisan ini bermanfaat <3 aamiin.
Ps:
*dibuat saat aku pulang dari mengajar tpq pertama kali, Jumat, (kayanya tanggal 24) Februari 2017, dan diselesaikan malam ini.
*tulisan ini dibuat semata untuk berbagi pikiran dan penyemangat diri sendiri, bukan bermaksud apapun.
Komentar
Posting Komentar