Nisa's Journal: Tentang Hati yang Bercahaya, dari Angkot
Senin, 17 Oktober 2016.
Satu minggu setelah hari kelahiranku.
Pagi ini, aku bangun tidak tergesa-gesa. Siap- siap berangkat sekolah dengan santai. Kayak holidai di pantai.
Nah, disini aku mau bercerita.
Senin pagi, tidak ada yang mengantarku ke sekolah. Malam minggu kemarin, bapak pulang ke rumahku yang di Karangtawang dan hari ini ada panggilan tugas di pusat kota Cilacap. Jadilah aku naik angkot ke sekolah.
Jam 6.10 aku berjalan kaki ke jalan raya bersama sepupuku. Kami berpisah di pertigaan, sekolah kami berbeda. Aku naik angkot warna biru sampai ke pangkalan angkot, lalu berganti angkot warna oranye untuk bisa sampai ke sekolah. Dan disitu aku masih santai santai. Kayak di pantai.
Di jalan, angkot penuh sesak dengan mbak mbak SMA sebaya denganku. Tapi masyaAllah, wangi parfum mereka sungguh membahana warbyasah sampai paru-paruku sesak oleh wewangian yang bercampur jadi satu di udara. Hoek, mana jendela angkotnya tidak dibuka.
Terus, pas didepanku, duduk seorang mbak dengan kerudung jipon(poninya keliatan, gitu, anu sengaja dikeliatin) dengan bedak supertebal dan gincu supermeling. Gincu itu lipstik ya, bagi yang tidak tau. Bling bling gitu, ewh. Padahal aku dan mbak mbaknya seumuran, tapi kita bagaikan langit dan bumi. Lol.
Tuh kan, ngelantur. Fokusnya bukan itu.
Intinya, aku naik angkot. Beberapa jalan lagi sampai ke sekolah, dan aku rasa aku terlalu santai padahal jam menunjukkan pukul 7 kurang sepuluh menit.
Angkot mulai sepi. Tinggal aku, seorang mbak mbak, dan seorang bapak paruh baya yang duduk di samping supir, sedang mengobrol dengan sang supir angkot.
Nah, ini baru mulai hal penting.
Aku tidak terlalu memperhatikan obrolan mereka, hanya sedikit ngga sengaja denger. Karena, ya, biasa, suara bapak bapak kan menggelegar.
Pak penumpang entah membicarakan apa. Tapi yang aku dengar(walau ga jelas dikit), kedua bapak itu membicarakan para pejabat-pejabat daerah Purwokerto. Atau apalah. Intinya tentang pejabat.
Bapak penumpang seolah kecewa dengan pejabat yang menyelewengkan kedudukannya, serta keluh kesah lain yang intinya: pejabatnya ngga amanah.
Aku tidak terlalu ngeh dengan pembahasan itu. Lagian, aku tidak mood ngomongin pejabat. Seperti ada 'negative effect' kalau menyinggung soal pejabat Indonesia. Bahkan ada orang bilang, "hari gini ibu ibu lebih suka anaknya jadi PNS daripada jadi DPR. Uangnya korupsi semua!"
Wah, itu agak rasis, sepertinya. Hanya saja itu mengatakan seolah image pemimpin daerah sudah terkenal buruk sampai sampai rakyatnya malu.
Intinya, kedua bapak itu bicara tentang pejabat dan pangkat.
Aku tidak sengaja melirik jam dinding sebuah sekolah yang terlewati. Wah, bentar lagi terlambat!
Aku panik, dalam hati sebel karena bapak bapak berdua itu nyante ngobrol saja.
Tapi tiba-tiba, si bapak penumpang berkata,
"ya, orang begitu mah, biasa. Seneng-seneng nyelewengin pangkat. Padahal kan, cuma pangkat di dunia, ya kan?"
Aku langsung menoleh ke kursi penumpang depan. Wow, amazing.
"Padahal mah, semua manusia sama. Orang sama-sama makan nasi.
Yang mbedain pangkat di akhirat ya takwa, kan? Harta bukan urusan.." ucap si bapak penumpang lagi.
"Iya, Pak. Saya juga cuma supir angkot ya bersyukur. Mau ngambil uang setoran lebih, ya mbok dosa.
Sebenernya majikan saya ngga bakal tau berapa pendapatan angkot ini sehari. Mau ngambil berapapun sebenernya saya bissa bebas ngga usah takut ketauan majikan.
Tapikan,
Ketauan Allah.."
Wow. Ucapan si bapak sopir menohokku. Aku memperhatikan wajah keduanya dari spion depan. Wajah keriput itu teduh, mata bapak sopir tajam menatap jalanan.
Tiba-tiba aku jadi tidak risau kalau terlambat ke sekah hari ini(nggak deng, risau banget padahal). Dari tempat duduk penumpang, aku tersenyum.
Ya Allah.. betapa aku malu pada kedua bapak itu. Usia yang sudah senja tergambar dari kerut wajahnya.
Aku malu. Bapak bapak itu bisa berkata sebijak itu.
Hanya seorang sopir angkot. Yang pendapatannya paling sehari 50-100 ribu. Sungguh bapak itu takut ketauan Allah kalo mengambil yang bukan haknya, katanya.
Lah aku? Nemu duit gope di kolong meja ya dimasukin saku, buat beli esteh di kantin.
Lucu, ya, hidup?
Kadang memang, orang orang dengan hidup yang sulit malah justru lebih arif menjalani hidup. Kerasnya takdir, mungkin telah meluluh lantakkan keserakahan hati si bapak.
Ya Allah, aku beruntung sekali naik angkot ini. Aku sungguh beruntung bisa bertemu si bapak sopir dan temannya.
Aku diberi kesempatan mendengar pembicaraan singkat--amat singkat malah, cuma sepotong kuotes dari angkot--yang sarat makna.
Sungguh beruntung, meski hanya tak kurang dari 10 menit aku mendengar pembicaraan mereka. Sampai sampai aku malu sendiri pada bapak itu.
Si bapak penumpang turun di pertigaan Becak Merdeka, dan kedua bapak saling melambaikan tangan. Angkot masih berjalan, sebentar lagi aku turun.
Dan aku tersenyum lagi memandang punggung bapak penumpang yang menjauh.
Sampai di perempatan, aku turun.
Setulus hati kuucap, "maturnuwun, pak."
Dan seturunnya dari angkot, aku tidak berhenti berpikir.
Hidup ini ironi, ya. Sunguh lucu.
Kenapa orang orang berdasi rapi dan berdompet tebal malah saling berebutan harta, padahal milik mereka sudah segunung.
Tapi lihatlah bapak sopir tadi. Hatinya yang jujur, tercermin dari perkataannya.
Juga si bapak penumpang, mengingatkanku kalau dunia ini bukan apa-apa.
Sepanjang berjalan dari jalan raya sampai ke gerbang sekolah, aku terus mikir-mikir.
Mikir mau mbikin tulisan ini, mikir kalau ternyata, alhamdulillahnya, masih ada orang baik dan jujur di sekitar kita. Hanya saja, kadang keberadaannya tidak kita sadari.
Boleh jadi hari ini kita berpapasan di jalan raya dengan calon ahli surga. Mungkin juga kita baru saja tak sengaja bertemu dengan orang yang insyaAllah masuk surga lewat pintu mana saja.
Karena biasanya, hati berbalut permata yang spesial malah tersembunyi di balik kesederhanaan dan kerendahan hati. Seperti mutiara di lautan yang dalam(quotes by nisa, asek bgt).
Jadi, intinya apa?
Intinya aku bersyukur dipertemukan dengan kedua bapak tadi. Bersyukur dikasih timing yang pas banget sama Allah untuk naik angkot itu dan bisa dapet pelajaran berharga dari si bapak.
'Semua manusi itu sama. Pangkat itu cuma berlaku di dunia, kan?
Yang membedakan manusia kan, takwanya.'
'Saya bisa ngambil untung banyak, saya ngga usah takut ketauan majikan kalo mau ngambil uang setoran lebih.
Tapi kan, ketauan Allah..'
Dua perkataan dari dua orang yang berbeda itu menggetarkan hatiku. Dari orang-orang baik yang kutemui di angkot pagi ini.
Aku jadi ingat perkataan istagram,
"Sebenarnya banyak orang baik di dunia ini.
Kalau kau tidak menemukannya,
Jadilah salah satunya."
Ya, mari kita jadi orang baik. Jangan risau di tengah kekacauan dunia. Cukup temukan hatimu, baikkan dirimu, dan ubahlah dunia dengan tanganmu.
Aku senyum senyum sambil jalan kaki. Aku berharap, aku bisa menemukan hatiku seperti bapak tadi memegang teguh kejujuran dan kerendahan hatinya.
Gerbang sekolah sudah terlihat. Aku mempercepat langkah.
Dan, ups! Sudah mau ditutup!
Gyahaha, aku lari lari sambil nyebut nyebut Astaghfirullah.
------
Sebenernya ini tulisan lama banget di buku, cuma baru kuketik sekarang.
Terimakasih sudah mau membaca sampai sini. semoga tulisan kecil ini bermanfaat ya! untukku, untuk kamu, untuk kita semuaaa! yeey.
See you in my next tulisan.😊
Jangan bosen bosen baca ya!
Regars,
Nisa.
Komentar
Posting Komentar