Cerpen : About Hijab, About My Pride



Halo :)


Udah lama banget yaaa, aku ngga nulis lagi di blog ini. Mungkin kalau ibarat meja, pasti blog ini udah berdebu saking lamanya ngga disentuh. Hehe, maafin aku ya, blog..
Akhirnya setelah sekian lama ngga peduli dengan blog ini, aku mau ngeshare cerpen yang aku buat beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, curhat dulu, ya..
Jadi, aku sebenarnya punya hobi menulis karena bawaan dari suka membaca. Dulu waktu SMP, aku punya banyaak sekali tulisan. Kebanyakan sih, cerpen. Tapi sayangnya, tulisan-tulisan itu menghilang entah kemana karena aku lupa nyimpen dimana dan semuanya aku tulis tangan sendiri, jadi sering tercecer.
Waktu SMP, aku tinggal di asrama sekolah. Makanya, aku punya banyyakkk sekali ide dan inspirasi tulisan karena kondisi anak smp yang masih labil dan kebetulan dulu aku sering jadi tempat curhat bagi temanku dan juga adik-adik kelasku. Karena itulah tulisanku dulu alaynya ngga ketulungan karena semua yang curhat juga alaynya lebih ngga ketulungan :p (kumohon yang merasa pernah curhat sama aku jangan marah karena itu nyata, ya, haha)
Dulu waktu smp aku sering banget nulis. Bahkan cerpenku dijadikan bahan bacaan anak se-asrama, bergilir satu per satu. Apalagi, dulu guru Bahasa Indonesiaku di smp, Ustadzah Izzati, pernah mengetik cerpen tulisan tanganku dan dipertontonkan ke semua adik kelasku angkatan 5 sewaktu pelajaran. Akibatnya, cerpenku jadi hits (eeaaa:v) dan nama tokohnya jadi sering dijadikan bahan candaan bagi adik kelasku yang laki-laki untuk mengejekku (sebel banget), tapi aku tau itu cuma bercanda kok, haha.
Tapi sekarang setelah SMA, entah kenapa aku tidak se-rajin dulu untuk menulis lagi (bahkan jarang banget), padahal aku masuk eskur jurnalistik di sekolah. Rasanya jadi pengin nangis kalau inget masa SMP dan kalau lagi baca cerpen lamaku yang masih tersisa. Untuk menulis, sekarang rasanya susaah banget. Awalnya aku tidak sadar kalau aku jadi jarang menulis sampai suatu saat, sahabatku, Ayyun, yang sekarang beda sekolah—yang dulu sering banget mbacain buku diariku diem-diem, terus kalo ketauan malah pura-pura amnesia—menanyakan kabar tulisanku.
Aku lalu mulai sadar, aku udah terlalu jauh meninggalkan dunia menulisku lagi. Bahkan, suatu saat Ustadzah Izzati juga menanyakan cerpen-cerpenku, katanya pengin baca cerpenku yang baru. Padahal, waktu itu aku sama sekali belum pernah menulis lagi semenjak masuk SMA, aku tidak punya satupun cerpen baru. Sedih banget :( Akhirnya aku curhat sama ustadzah.  
Dan aku mulai menengok ke belakang. Apa saja sih, yang aku lakukan satu tahun ini, mulai dari saat masuk SMA. Lalu aku sadar aku selama ini menganggap menulis itu hanya kewajiban karena ikut eskur jurnalistik, juga sebagai keharusan karena aku ingin menunjukkan kalau aku bisa menulis, bukan seperti dulu saat aku menulis dari hati (aduh alaynyaaa). Akhirnya, aku malah lupa dengan esensi menulis itu sendiri. Aku justru malah menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak aku sukai, contohnya ikut tim olimpiade geografi di sekolah. Aku tau itu juga hal yang bermanfaat, tapi aku merasa terpaksa menjalaninya. Akhirnya, aku jadi malah asing dengan kesukaan awalku menulis.
Jadi………
Di tahun ajaran baru ini, aku bertekad untuk menggali lagi mimpiku dengan menulis. Aku tidak mau impianku hilang gitu aja, ya. Aku memutuskan untuk mengambil keputusan: aku tidak akan lagi ikut olimpiade. Karena passion dan cita-citaku bukan itu. Mungkin, suatu saat nanti bisa berubah, tapi untuk saat ini itulah yang aku pikirkan.

Wuahh, kok curhatnya jadi panjang banget ya. Aduh, maaf yaa… saking antusiasnya come back again in this blog, jadi gini nih.
Aku berharap blogku terlahir kembali, hehe. Dan impianku juga kembali. Aku ingin aku bisa sedikit bermanfaat untuk orang lain dengan apa yang aku bisa.
Oke, check this cerpen out, ya.

See you soon,


nisa:)

***

Langit kota Jakarta mendung pagi ini. Awan-awan nampak kelabu, dan bumi dibawahnya bersiap untuk melebarkan payung. Musim hujan telah tiba, bumi makin sering diguyur air hujan. Aku terburu-buru melangkah berjingkat melewati genangan air bekas hujan tadi malam.
            “Dek, hati-hati bajunya basah,” ibu mengingatkanku untuk menyingkap rokku yang kepanjangan. Aku hanya mengiyakan, tapi tidak juga menuruti perintah ibu.
            Aku tersenyum-senyum sendiri. Langit mendung di atas tidak berpengaruh pada semangatku hari ini. Wuah, hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Ali, adikku yang baru berumur tujuh tahun juga tampak sama cerianya denganku. Ia memandangi jajaran pesawat di Bandara Soekarno-Hatta ini, seolah tidak pernah melihat pesawat secara langsung. Dan tanpa menunggu lagi, aku dan keluargaku segera menuju ruang tunggu pesawat.
            “Yah, kita mau naik pesawat yang mana, Yah?” Tanya Ali berbinar-binar.
            “Yang itu, Li,” aku menunjuk sebuah mobil-mobilan besar berbentuk bebek di ujung ruang tunggu. Ayah dan ibu terkekeh, Ali merengut sebal. Aku sangat heran, bisa-bisanya ada mobil-mobilan bebek di sebuah ruang tunggu Bandara Internasional. Lucu sekali.
            Kakek, nenek, dan keluargaku datang sepuluh menit kemudian. Diikuti teman-teman sekelasku yang datang mengucapkan perpisahan.
            Bisa ditebak? Aku dan keluarga kecilku hendak pindah ke luar negeri. Kanada, tepatnya. Ayahku yang bekerja menjadi karyawan swasta di sebuah perusahaan dipindahtugaskan ke Kanada.  Wow, bayangkan bagaimana senangnya hatiku. Aku yang biasanya hanya melihat Kanada lewat gambar di google sekarang akan tinggal disana langsung? Bayangkan rasanya. Bayangkan. Seperti anak ayam yang tiba-tiba diberi sebuah istana angsa.
            “Lailaaaa!!” Seru Kinan, teman dekatku. Aku terkekeh melihatnya berlari tergesa-gesa menghampiriku. “Kenapa harus pindah, sih,” ia merengut sambil menggamit tanganku.
            “Kamu udah tanya gitu berapa kali, Kin,” aku menjawab sambil tertawa. “Jawabannya cuma satu : ayahku dipindahin. Udah,”
            “Kan kamu bisa ditinggal disini terus tinggal di rumah saudaramu,” sahut Alika, temanku yang lain. Kinan buru-buru mengiyakan. Aku hanya terus-terusan tertawa. Bibi dan pamanku memberi wejangan tentang susah-dan-sedih-dan-susah-dan-sedihnya-hidup-di-tanah-asing-di-antara-orang-bule. Nasihat yang sudah beribu-ribu kali kudengar sampai aku hafal setiap kata-katanya. Dan sepupuku, Rinda, bilang akan setiap hari mengirim email. Laina, sepupuku yang baru berusia tiga tahun tidak mau melepaskan genggamannya padaku. Ia juga berceloteh supaya ’Bang Ali’ jangan pergi. Seisi ruang tunggu terkekeh geli mendengar cadelnya.
            Ruang tunggu ini jadi sangat ramai begitu mereka semua tiba. Tiba-tiba aku merasa sedih. Dalam hati, aku sedikit ragu untuk meninggalkan Indonesia. Dimana aku akan mendapatkan teman seperti mereka lagi? Dan keluarga besar yang hangat, bagaimana bisa aku tinggal jauh dari mereka?
            Aku mulai takut, bagaimana jika aku tidak cocok hidup di tanah asing di sana? Apa orang-orang di sana mau menerimaku dan keluargaku? Apa kami akan bisa berbaur dengan mereka?
 Keraguanku masih terbawa sampai aku  terakhir kalinya melambaikan tangan pada semua teman-teman dan keluargaku. Ali malah asyik-asyik saja dengan keingintahuannya melihat isi pesawat. Bahkan sampai aku duduk di tempat dudukku dan memandangi kota Jakarta lewat sudut sini, aku masih takut untuk pergi.
            Tiba-tiba ibu menggenggam tanganku, membuat aku menoleh kaget. “Kenapa, Bu?”
            Ibu tersenyum, “Kamu takut?”
            “Takut apa bu?” aku pura-pura tak tahu.
            Ali yang sok tau langsung mengejek, “masa udah gede takut naik pesawat?” dan aku langsung melotot menanggapinya. “Enak aja, mbak udah sering naik pesawat,” bohongku. Dan Ali hanya melengos, soalnya ia tahu aku berbohong.
            Saat pesawat sudah mengudara dan Ali sudah terlelap setelah takjub melihat pemandangan di luar jendela, ibu membelai kepalaku dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Aku pura-pura terlelap dalam pelukan ibu, pura-pura tidak dengar. Tapi jauh di dalam hati, aku menangis tidak ingin pergi.


--


            “Hi. My name is Laila and I come from Indonesia. Nice to meet you, guys,”
            Aku berdiri kaku di depan ruangan kelas berukuran sedang yang berisi sekitar 27 murid. Dan semuanya orang bule. Semua anak disini mengenakan baju kaos bebas—sekolah ini tidak memiliki aturan seragam seperti di Indonesia--yang semuanya nampak gaul dan trendi, persis seperti gambaran anak SMA luar negeri yang ada di film-film Hollywood. Mereka memandangku dengan tatapan penasaran, bahkan ada yang berbisik-bisik heran.
            Dua hari sesampainya di Kanada, aku dan Ali sudah harus berangkat ke sekolah baru kami. Ternyata ayah sudah menyiapkan semua kebutuhan kami di sini. Ayah sudah menyewa sebuah rumah di pinggir kota, juga sudah menyiapkan sekolahku dan adikku. Dan hari ini adalah hari pertamaku berangkat sekolah.
            “Thankyou, Ms. Laila. You can back to your chair now,” ucap guru yang mengajar itu menyuruhku duduk. Aku mengangguk dan segera kembali ke kursiku di pojok.
            Gadis di sebelahku memandangku heran. “Kamu dari Indonesia, ya?” tanyanya dengan bahasa Inggris. Aku mengangguk sambil tersenyum.
            Gadis itu mengajakku mengobrol dan aku sadar kalau ternyata ia ramah sekali. Ia mengenalkan diri, “namaku Jeykka,” ucapnya sambil tersenyum ramah.
            Gadis di sebelah Jeykka ikut menimbrung, “kamu dari Indonesia? Yang ada pulau Bali-nya, ya?”
            Aku lagi-lagi mengangguk dan ia bertanya-tanya lagi. Ia bilang pernah mengunjungi Bali sekali. “Oh iya, aku lupa memberi tahu namaku. Namaku Kyla Anderson. Panggil saja aku Kyla,” ucapnya.
Ternyata orang bule semuanya ramah, terlepas dari keingintahuan mereka yang besar terhadapku. Aku jadi tidak takut lagi untuk bersekolah dan tinggal di sini, kurasa mereka bisa menerima aku yang berjilbab. Dan masalahnya hanya perbedaan gaya pakaianku dengan mereka yang tampak mencolok. Di ruangan ini, hanya aku saja yang seolah berpakaian aneh dan tidak menarik. Aku merasa seperti alien yang nyasar ke bumi. Pakaianku 180 derajat berbeda dengan semua teman-teman baruku. Semuanya bergaya modis dan gaul, aku saja yang seolah tenggelam dalam pakaian lebarku yang berbeda dari mereka.
Tadi malam, aku hampir-hampir tidak bisa tidur memikirkan bagaimana hari pertamaku bersekolah di sini. Greenson Highschool, itu adalah nama sekolahku sekarang. Kukira, orang-orang bule ini tidak suka melihat orang berjilbab. Tapi ternyata, mereka semua ramah dan baik sekali. Benar kata ibu, semua akan baik-baik saja.
Dan begitulah hari ini berjalan. Aku mendapatkan banyak teman baru yang asyik dan semuanya menerimaku dengan baik. Bahkan kami bertukar nomor hp dan akun media sosial. Ketika pulang sekolah, aku bahkan sudah hampir hafal seluruh nama-nama teman-temanku.
Aku tidak sabar menanti hari besok.

--

            Fashion Hijab. Itu adalah laman google yang sedang aku buka. Aku berpikir selera fashionku mungkin harus dirubah, karena hanya aku satu-satunya siswi di sekolahku yang berpakaian lebar dan berwarna tidak menarik. Bahkan gaya berkerudungku pun terlihat ketinggalan zaman. Menurutku, aku harus membuat hijab yang aku pakai jadi terlihat menarik dan tetap syar’i, supaya mereka tahu bahwa dengan berhijab pun, aku masih bisa tampil modis. Siapa tahu ada temanku yang akhirnya dapat hidayah, hehe..
            Aku melihat berbagai macam gaya berhijab yang tampak trendi dan menarik di layar laptop. Yang mana ya, yang cocok denganku? Apa aku harus minta bantuan Kinan dan Rinda, ya?           
            Akhirnya aku mengirim email pada Rinda dan Kinan, mereka berdua biasanya selalu bisa memecahkan masalahku.
            “Kin. Menurutmu gimana gaya fashion yang bagus supaya bisa membaur di sini?” Tulisku pada emailku pada Kinan. Aku juga mengirim yang sama pada Rinda.
            Tak lama kemudian, Rinda membalas emailku terlebih dahulu.
            “Kamu mau ngerubah gaya, Lail? Menurutku ngga usah, kamu udah cocok begitu aja,” tulisnya pada emailnya.
            Aku merengut. Rinda tidak membantu. “Tapi aku ketinggalan jaman banget, Rin,” balasku.
            Rinda tetap menasihatiku untuk tidak merubah gaya. Aku juga tetap pada pendirianku untuk lebih gaul sedikit. Akhirnya Rinda mengalah dan memberikanku sedikit tips untuk berjilbab. “Lebih baik tanya pada ibumu, Lail,” tulis Rinda di email terakhirnya.
            Aku menolak usul itu. Ibu pasti menolak pemikiranku dan menyuruhku tetap dengan jilbaku yang kuno.  Bagaimana, ya?
            Setelah ditunggu lama, Kinan akhirnya membalas emailku. Sama seperti Rinda, ia menanyakan niatku untuk berganti style berjilbab. Tapi akhirnya Kinan juga memberiku tips  fashion hijab yang sedang banyak dipakai di Indonesia. “Style seperti ini bagus, Lail. Tapi kamu harus beli kerudungnya dulu,” tulisnya di emailnya serta memberikan gambar-gambar jilbab yang trendi. 
            Aku memutar otak. Harus beli jilbabnya dulu? Mungkin lewat online shop bisa, tapi masalahnya adalah.. aku harus minta uang dulu pada ibu supaya bisa membeli jilbab yang aku inginkan. Kira-kira, apakah ibu mengijinkan aku membeli jilbab itu?
            Kupikir ibu pasti membolehkan. Menurutku, jilbab yang ingin kubeli itu tergolong syar’i. Bahannya lembut dan ringan—menurut Kinan. Aku tinggal memesan jilbab itu secara online dan bisa diantar ke Kanada. Akhirnya aku memberanikan diri berbicara pada ibu untuk membelikanku jilbab tersebut.
            “Bu, Laila pengin beli kerudung online. Boleh, tidak?” Tanyaku pada  ibu suatu sore saat ibu sedang menanami kebun dengan bibit bunga.
            “Buat apa, Dek? Kerudungmu kan, sudah banyak,” jawab ibu sembari mencuci tangan yang belepotan tanah. Setelah menutup kran, ibu membereskan sekop dan peralatan berkebunnya. Hobi baru ibu di sini yaitu berkebun di halaman rumah baru kami yang luas.
            “Tapi Laila pengin kerudung baru, Bu. Kan buat variasi, gitu.. hehe,” ucapku tanpa menjelaskan tujuanku sebenarnya.
            “Ya sudah, nanti ibu kasih,” jawab ibu.
            Aku bersorak kegirangan. “Bener, bu? Boleh?”
            Ibu mengangguk dan menanyakan cara pengiriman kerudung baru yang kubeli. Setelah kujelaskan, ibu hanya mengangguk dan ber-ooh ria. Aku sengaja tidak memperlihatkan pada ibu kerudung yang ingin aku beli, takut ibu tidak jadi mengizinkan.
            Dua minggu menunggu, akhirnya aku mendapatkan paket yang aku inginkan. Dua minggu pula, aku masih bertahan dengan gaya pakaianku yang lama—rok setelan panjang yang notabene warna hitam, kaos panjang yang warnanya kebanyakan gelap, serta kerudung panjang warna hitam. Aku tidak masalah dengan panjangnya pakaianku, karena memang seharusnya pakaian penutup aurat menutup semua badan, kecuali wajah dan telapak tangan. Tapi yang membuatku ingin merubah gaya berpakaianku, semua baju-baju dan kaosku berwarna gelap dan tidak menarik dilihat. Apalagi, gaya kerudungku yang hanya kerudung kaos seadanya. Aku ingin memakai pakaian modis yang membuatku tampak sesuai dengan teman-teman baruku. Dan kupikir itu wajar, apalagi aku masih memilah pakaian yang syar’i dan sesuai aturan. Ya, meskipun lebih gaul dikit.. wkwk
            Aku sangat berbunga-bunga membuka paket yang datang saat aku masih di sekolah. Ibu memberitahuku bahwa paketku sudah datang saat aku pulang sekolah.
            “Wah, bagus banget..,” ucapku saat menyentuh kerudung yang kupesan. Warnanya merah jambu, bahannya ringan dan lembut seperti yang Kinan bilang. Kerudung itu bergaya segi empat yang memakainya harus kulilit-lilit. Tapi tak apalah, asal jadi gaul, tidak masalah. Aku tidak sabar untuk memakainya besok pagi ke sekolah.
            Aku mematut-matut diri di cermin. Aku menghabiskan waktu sekitar setengah jam hanya untuk memakai kerudung baruku. Aku tersenyum puas, sesuai yang aku harapkan. Sekarang, tinggal mencari baju yang pas untuk kerudung baruku ini.
            Aku mengubek-ubek lemari baju, berharap menemukan satu saja baju berwarna merah muda untuk kupakai bersama kerudung baruku besok. “Bu.., ada baju warna pink, nggak?” tanyaku frustasi pada ibu. Nihil, tidak ada satupun baju yang cocok untuk kupakai bersama kerudung baruku. Bodoh sekali aku, aku membeli kerudung tanpa memikirkan atasan yang pas untuk melengkapinya.
            “Buat apa, Dek?” tanya ibu.
            “Buat dipake besok, Bu.., biar cocok sama kerudung baruku,” jawabku.
            Ibu tampak ikut mencari di lemari. “Kamu beli kerudungnya seperti apa sih, Dek?”
            Aku menunjukkan kerudung merah muda yang baru kubeli. Ibu mengamati kerudungku, lantas terdiam heran. “Kamu beli jilbab seperti ini?”
            Aku mengangguk. “Kenapa, Bu?” tanyaku.
            “Kamu lagi kenapa sih, Dek? Jatuh cinta?”
            “Hah?” aku terkejut mendengar pertanyaan ibu. “Kok, jatuh cinta? Ya enggak lah, masa Laila jatuh cinta sama orang bule?”
            “Habisnya, kamu beli kerudung begini. Warna pink, pula,”
            “Begini gimana, Bu?” tanyaku heran.
            “Kamu yakin kerudung ini syar’i?” Ibu bertanya santai. Aku mengangguk menjawabnya. Aku yakin kerudung ini syar’i. Kerudungnya menutup dada, juga membuatku tampak lebih gaul dengan modelnya.
            “Syar’i itu bukan cuma menutup dada, Dek. Tapi juga tidak tabarruj, alias tidak menarik perhatian,” ucap ibu seolah tau isi pikiranku. “Kamu pengin kelihatan gaul, ya, diantara teman-teman barumu?” Pertanyaan ibu menohokku.
            “Kok, ibu tau?”
            “Jelas tau, lah. Anak perempuan ibu tiba-tiba minta beli kerudung online. Eh, taunya yang dibeli kerudung lilit-lilit begitu kayak mie. Kamu tidak pede, ya, dengan pakaianmu yang biasa?”
            Aku menunduk. Ibu selalu tau apa yang aku rasakan. “Habis bagaimana, Bu? Cuma Laila yang pakai pakaian hitam-hitam lebar kayak ninja di sekolah. Laila kan, juga pengin kelihatan gaul di sekolah. Laila pengin nunjukin ke temen-temen Laila, kalau pake jilbab juga masih tetap bisa modis dan cantik..,” ucapku.
            Ibu mengelus kepalaku. “Ibu tau perasaan kamu kok, Dek. Ibu juga dulu seperti itu pas seumuran kamu. Cuma ibu satu-satunya murid di sekolah yang pakai jilbab lebar, karena saat itu jilbab belum dikenal seperti sekarang. Tapi ibu pede aja, Dek.”
            Tapi ibu kan, bukan muslim sendirian di sekolah. Aku bergumam dalam hati.
            “Ibu tau, kamu merasa minder karena kamu satu-satunya muslim di sekolahmu. Tapi justru dengan itu, kamu harus bangga untuk menunjukkan identitas muslimmu, supaya orang bule tau, meskipun kamu seorang muslimah yang taat, kamu masih bisa bersekolah normal dan meraih prestasi seperti yang lain,”
            “Kok, ibu bisa baca pikiranku, sih?” Sontak aku menjawab heran. Ibu seolah bisa mendengar kata hatiku.
            Ibu terkekeh. “Jangan-jangan ibu bisa sulap, ya, Dek,”
            Aku ikut tertawa. Tapi kemudian terdiam lagi. “Terus gimana, Bu?”
            “Kamu pasti tau yang harus kamu lakuin, Dek.”
            Aku makin menunduk. Aku masih ragu dengan kalimat ibu meskipun aku tau ibu benar. Aku merasa masih minder jika bergaul dengan teman-temanku. Mereka semua modis, gaul, dan cantik.
            “Dek. Jilbab itu fungsinya apa, sih?”
            Aku menoleh menatap ibu. Aku menolak menjawab, lebih memilih diam.
 “Fungsi jilbab sebenarnya itu adalah untuk menutupi kecantikan kita, untuk melindungi aurat kita. Bukan untuk membuat kita jadi lebih cantik kalau berjilbab.
            Kita berjilbab dan menutup aurat itu untuk menunjukkan ketaatan kita sama Allah, bukti cinta kita sama Allah. Allah menyuruh muslimah untuk berjilbab itu karena Allah sayang pada kita, para muslimah. Kita adalah permata yang istimewa, yang kecantikannya harus dilindungi. Jadi, Allah menyuruh kita menutup aurat. Tuh, kan, Allah sayang banget sama kita.
            Dek. Allah aja sayang sama kita, kenapa kita belum bisa taat?”
            “Tapi kan, Bu…,” aku menyela ibu.
            “Taat tanpa tapi. Taat tanpa nanti.”
            Dan kalimat terakhir ibu benar-benar membungkamku malam itu.

--

            Aku menghabiskan malam sebelum tidur untuk berpikir. Otakku penuh dengan pemikiran. Antara turuti kata hatiku, atau turuti hawa nafsuku. Aku ingin sekali tampil percaya diri di depan teman-temanku dengan jilbab dan pakaian yang gaul dan trendi. Tapi dibalik itu juga, aku merasa ibu benar dan aku tidak seharusnya berpikiran untuk tampil gaul. Mungkin boleh saja tampil gaul, tapi harus dilihat niatnya. Niatku ingin dilihat menarik oleh teman-teman, tentu saja itu salah.
            Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, bahwa aku tidak perlu mengubah gaya pakaianku sehari-hari. Aku hanya harus membuat pakaianku makin syar’i dan tidak menyalahi aturan Allah. Itu yang harusnya aku lakukan, bukannya malah rendah diri dan berusaha menjadi yang bukan diriku.
            Pakaian penutup aurat yang syar’i harusnya menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tidak tembus pandang, tidak ketat dan membentuk lekuk tubuh, serta tidak tabarruj atau menarik perhatian dan berlebihan. Itu adalah aturan menutup aurat, dan pakaian penutup aurat tidak harus gaul, tidak harus modis, tidak harus warna-warni. Itu yang harusnya aku pikirkan. Bukannya malah sok-sokan beli kerudung lilit-lilit macam mie yang pakainya saja butuh waktu setengah jam.
            Aku beristighfar dalam hati. Maafkan aku, ya Allah. Sesampainya aku di Kanada malah aku ingin berubah mengikuti gaya hidup orang-orang barat yang modis. Seharusnya, aku menjadi agen Islam yang baik di negeri asing ini. Menjadi muslimah taat yang menyebarkan pesan kebaikan bahwa Islam adalah agama indah yang menjaga, bukannya malah mempertontonkan aurat muslimahnya. Memberikan baktiku untuk membantu sesama, membuktikan cerdasku pada dunia meski aku menutup kepalaku dengan jilbab.
            Aku juga yakin teman-temanku menerima gaya berpakaianku yang berbeda dari mereka. Buktinya, selama tinggal di sini aku tidak merasa dikucilkan atau dianggap berbeda dari mereka. Bahkan teman-temanku juga mau menoleransiku yang tidak memakan babi. Mereka memilihkan menu vegetarian di kantin sekolah untukku.
            Wah, salah sekali jika aku merasa aku harus mengikuti tren mereka. Mereka saja mau menerimaku apa adanya.
            Malam ini, aku merasa bodoh sekali. Awalnya, kupikir aku akan mendapat masalah dari masyarakat bule di sini. Kukira mereka akan mempermasalahkan jilbabku atau agamaku. Ternyata, masalah yang datang justru berasal dari diriku sendiri. Aku malah membuat keyakinanku sendiri jadi goyah, padahal tidak ada yang mempermasalahkan gaya hidup dan pakaianku.
Aku yang berusaha berubah menjadi yang bukan diriku, sekarang sadar bahwa dimanapun aku berada, pasti banyak orang-orang baik yang menerimaku apa adanya. Hanya aku saja yang perlu menjadi diriku sendiri dan bangga dengan diriku yang sekarang ini.
            Aku teringat kata-kata ibu di pesawat. “Semua akan baik-baik saja. Hari-hari akan bergulir seperti biasanya. Dan kamu akan jadi dirimu sendiri yang biasanya, tidak perlu mengubah dirimu hanya untuk dianggap baik oleh orang-orang. Ingat kata ibu, semua akan baik-baik saja. Hanya kamu yang perlu jadi dirimu, cukup jadi dirimu. Banggalah dengan Islammu, dengan jilbabmu. Banggalah jadi dirimu apa adanya.”
Aku tersenyum. Oke, bu. Aku akan jadi diriku sendiri dan bangga dengan identitas Islamku yang akan aku junjung tinggi.
Aku terlelap malam ini dengan senyum mengembang dan mimpi indah yang menanti. Paginya, aku berangkat sekolah dengan semangat bersama Ali seperti biasa. Aku akan jadi seperti Ali, ia sangat menikmati hari-harinya di sini. Bahkan dua hari lalu ada seorang temannya yang menginap di rumah kami. Kurasa ia cukup sukses dengan pergaulannya, terlepas dari bahasa inggrisnya yang masih medok Jawa.
Aku mencium tangan ibu, berpamitan. “Makasih ya, Bu. Laila udah sadar sekarang. Laila ngga mau jadi orang lain. Laila cuma ingin jadi diri Laila sendiri,”
Ibu tersenyum, “kerudung pinknya ngga jadi dipake, Dek?”
Aku tertawa, “dijadiin lap aja deh, Bu,”

Jadi, mulai sekarang. Ya, mulai sekarang juga. Banggalah dengan Islammu. Banggalah dengan jilbabmu wahai para muslimah. Buktikanlah bahwa kita cerdas dari hati kita, buktikan bahwa kita cerdas dari budi pekerti kita. Tunjukkanlah, bahwa kita menutup aurat kita, bukan menutup kecerdasan dan ilmu pengetahuan kita.
Jadilah agen muslimah cerdas yang baik, dimanapun berada. Gaul itu perlu, tapi pastikan gaulmu sesuai syariat yang Allah tentukan. Tapi yang lebih perlu, cerdaskan hati dan pemikiranmu. Cerdaskan hatimu untuk berbagi dan peduli pada sesama, cerdaskan pemikiranmu untuk meraih ilmu setinggi-tingginya. May Allah bless us :)
  


Komentar

  1. Assalamualaikum mba nisa.. Keren banget cerpennya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaykumussalam yana.. maaf mba nisa baru sadar ada yang komen😂 terimakasih.. semoga bermanfaat yaa

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer