Dandelion says,
“I was a dandelion puff...Some saw the beauty in me and stooped quietly to admire my innocence. Others saw the potential of what I could do for them, so they uprooted me, seeking to shape me around their needs. They blew at my head, scattering my hair from the roots, changing me to suit them. Yet still others saw me as something that was unworthy and needed to be erased.”
― Nicole Bailey-Williams
pernahkah berpikir, apakah dandelion ingin dicerabut dari akarnya?
lalu ditiup.. terbang bersama angin.
mungkin jawabannya, tidak.
mana ada yang ingin dipisahkan begitu saja dari tanah tempat pertama ia tumbuh.
tapi itulah hidup.
bunga dandelion
meski sungguh sulit, walau terlalu berat untuk terbang sendirian,
ia tetap menaburkan keindahan pada tanah yang ia pijak.
meski sendirian, meski tidak punya teman.
meski hanya jadi satu satunya mahluk yang asing di tempat baru,
di pijakan pertama ia dibawa angin.
meski sepi, walau sendiri.
entah kelopak kelopak kecil itu diterbangkan angin, ditiup musim..
dimanapun ia dibawa, selalu tersenyum.
dari bunga bunga kuning kecil yang menawan, lantas tumbuh tua dan menjadi putih.
sesingkat itu hidupnya,
tapi ia membuat mahluk lain gembira, bukan?
dengan hati yang cerah, ikhlas dan tulus.
dimana saja berada tetap menebar indah.
maka seperti dandelion,
hiduplah dengan sederhana.
meski singkat, buatlah yang bermakna.
meski di tempat asing, baru, aneh.
tetap tersenyum, buatlah orang lain bahagia.
dimanapun tempat baru yang kau tuju,
tebarkan kebaikan dan semangat untuk melaju :)
-beradaptasi itu hanya butuh waktu.
Komentar
Posting Komentar